Mewujudkan Merdeka Belajar Pascapeleburan Kemendikbud dan Ristek

Mewujudkan Merdeka Belajar Pascapeleburan Kemendikbud dan Ristek

Pada peringatan Hardiknas kali ini Mendikbudristek, Nadiem Makariem mengajak insan pendidikan di tanah air serentak bergerak mewujudkan merdeka belajar.

Momentum peringatan Hardiknas ini juga berdekatan dengan pelantikan Mas Menteri Nadiem yang dipercaya memimpin dua kementerian yang digabung yaitu Dikbud (pendidikan dan kebudayaan) dengan Ristek (riset dan teknologi).

Penggabungan Kementerian Dikbud-Ristek menegaskan bahwa pendidikan-kebudayaan tidak dapat dipisahkan dengan riset-teknologi. Keduanya menjadi saling menguatkan dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul melalui pendidikan.

Lalu bagaimana upaya mewujudkan merdeka belajar dengan memanfaatkan pendidikan berbasis riset teknologi?

Teknologi informasi pendidikan

Melanjutkan kebijakan pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran daring, dan bukan karena darurat di masa pandemi saja, maka keterampilan informasi dan teknologi (IT) dimasukkan kembali dalam kurikulum untuk menjadi pelengkap pembelajaran di dalam memfasilitasi siswa mencapai kompetensi di era digital.

Mas Menteri Nadiem telah memasukkan kembali IT dalam kurikukum dengan momentum pandemi yang menyadarkan semua bahwa IT adalah masa depan dunia. Hanya saja kesenjangan wawasan penguasaan IT antara guru sebagai immigrant digital dengan siswa sebagai native digital sangatlah nyata.

Survei Tanoto Foundation di Jawa Tengah pada bulan Juli 2020 menunjukkan 96 persen guru hanya dapat menggunakan WhatsApp untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Bahkan di bulan Desember 2020 angkanya makin merosot, guru yang dapat menggunakan WhatsApp hanya 86 persen saja. Oleh karena itu, pentingnya melakukan pemetaan di sekolah secara berkala agar guru dapat mengejar ketinggalannya dalam menguasai teknologi untuk pembelajaran.

Perkuat peran orangtua

Keterlibatan orangtua di dalam pendidikan dasar perlu dikonseptualisasi dengan baik agar dapat berperan secara maksimal menumbuhkan minat dan pembiasaan siswa dalam belajar di manapun dan dengan media apapun. Banyak isu-isu strategis terkait program parenting yang diperoleh dari perjalanan belajar di rumah (BDR) selama masa pandemi hingga kini.

Program Pintar Tanoto Foundation merumuskannya dalam dua poin utama;

  • Aktivasi orangtua untuk berperan serta, dan
  • Penguatan pemahaman dan keterampilan orangtua dalam menunjang kualitas belajar anak, termasuk keterampilan dalam menggunakan teknologi.

Orangtua tidak lagi dapat menyerahkan anaknya ke sekolah seperti “menambal ban bocor” tinggal terima beres.

Orangtua juga harus menjalin interaksi dan komunikasi dengan sekolah dan perlu adanya asupan materi dan informasi yang dapat dipelajari dan dilatihkan kepada orangtua. Misalnya;

  • Memahami karakteristik belajar anak,
  • Kemampuan orangtua mengelola waktu berbagi antara kerja dan mendampingi anak, dan
  • Pentingnya membaca bersama anak.

Maksimalkan peran LPTK

Perlu persiapan yang matang untuk calon guru di lembaga pelatihan tenaga kependidikan (LPTK) agar mereka dapat memiliki kompetensi spesifik dalam mendukung penguasaan IT di pendidikan dasar.

Salah satu caranya dengan mempersiapkan materi dan “tradisi” perkuliahan berbasis IT di LPTK.

Calon guru perlu mengalami secara langsung realitas lemahnya infrastruktur IT sekolah di perkotaan dan pedesaan.

Artinya, konsep praktik kerja di lapangan dapat jadi sarana pematangan bagi calon guru, bahkan bagi para dosen sehingga teori yang telah diperoleh di kampus tidak jauh dari realitas kondisi sekolah terkini.

FOKUS PROGRAM