Jelang PTM Terbatas, Bagaimana Siapkan Pembelajaran Bermakna di Masa Pandemi?

Jelang PTM Terbatas, Bagaimana Siapkan Pembelajaran Bermakna di Masa Pandemi?

Pemerintah telah merilis Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi. Panduan tersebut mendorong sekolah wajib menyediakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang menerapkan protokol kesehatan, dan juga menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Orangtua siswa juga diperkenankan memilih anaknya dapat mengikuti PTM terbatas atau tetap melaksanakan PJJ. PTM terbatas bisa dikombinasikan dengan PJJ agar kesehatan dan keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas.

Kebijakan tersebut bisa dikolaborasikan dengan pengalaman kegiatan belajar dari rumah yang sudah berjalan selama satu tahun.

Pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam penyelenggaraan pembelajaran ke depan, terutama untuk menutup berbagai masalah yang dihadapi guru dan orangtua dalam mendampingi anak belajar.

Memastikan semua siswa bisa belajar

Masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi adalah tidak semua siswa bisa mengakses pembelajaran daring.

Sekolah perlu membuat berbagai alternatif solusi untuk memastikan semua siswa yang tidak bisa mengakses internet, mereka juga bisa belajar.

Sekolah bisa menyediakan beragam bentuk pembelajaran, mulai tanpa memanfaatkan teknologi seperti pembelajaran luring mingguan yang disediakan guru, memanfaatkan teknologi yang umum digunakan seperti WhatsApp dan SMS.
Maupun yang berteknologi tinggi seperti pemanfaatan aplikasi tatap maya Zoom, Google Meet, atau Jitsi, dan pembelajaran berbasis LMS (learning management system) seperti yang disediakan secara terbuka di laman rumah belajar Kemendikbud.
Kemendikbud juga telah menyediakan TV pembelajaran yang bekerja sama dengan TVRI. Program ini menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk merancang pembelajaran untuk siswa.

Mereka tidak cukup hanya menonton, guru perlu merancang keterlibatan aktif mereka dari menonton TV dengan konten materi pembelajaran tersebut, misalnya menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman dalam memandu aktivitas yang akan dilakukan siswa.

Di daerah saya yang berada di perdesaan Kabupaten Siak, Riau, banyak siswa yang bermasalah mengakses internet. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan kunjungan pendampingan belajar ke rumah siswa.

Sekolah juga menyediakan pembelajaran tatap muka terbatas dengan waktu 70 menit untuk siswa secara bergantian.

Pola pembelajarannya selain wajib mengikuti protokol kesehatan, guru juga harus inovatif dengan memberikan pembelajaran yang membuat siswa belajar secara bermakna yang dikombinasikan dengan PJJ secara daring.

Menyediakan pembelajaran bermakna

Berdasarkan survei kegiatan belajar dari rumah (BDR) yang dilakukan Tanoto Foundation, 84,9 persen guru melaksanakan BDR dengan memberikan tugas berupa soal kepada siswa.

Bila pola pembelajaran seperti ini yang hanya dilakukan, maka bisa dipastikan siswa akan kehilangan minat belajarnya. Mereka tidak mendapat kebermaknaan belajar dengan situasi nyata kehidupannya.

Untuk menyediakan pembelajaran yang bermakna, guru perlu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan karakter keterampilan mata pelajaran yang perlu dilatihkan secara berkelanjutan kepada siswa.

Misalnya, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi. Sedangkan proses matematika yaitu penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.

Ketika guru mengajar matematika baik dalam PTM atau PJJ, siswa jangan hanya diberikan rumus, tetapi siswa perlu difasilitasi untuk menemukan rumus tersebut.

Setiap mata pelajaran memiliki karakternya sendiri. Guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter mata pelajarannya.

Seperti ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan karakter metode ilmiah sehingga siswa dilatih untuk menemukan jawaban dari persoalan dengan metode ilmiah yang mendukung peningkatan keterampilan proses sains siswa.

Metode ilmiah yaitu merumuskan permasalahan/pertanyaan, berhipotesis, bereksperimen, menganalisis hasil eksperimen, dan menyimpulkan.

Contoh lainnya mata pelajaran IPS yang berkarakter mengembangkan keterampilan IPS dan sikap sosial siswa. Keterampilan IPS yang dimaksud adalah keterampilan berpikir kritis, mengolah informasi, berperan dalam kelompok, dan mampu mengkonstruksi pengetahuan baru.

Sikap sosialnya seperti peduli, jujur, santun, dan bertanggungjawab. Pembelajaran yang mengembangkan karakter mapel tersebut, dapat mengembangkan potensi anak, yaitu rasa ingin tahu dan berimajinasi.

Dimana kedua hal tersebut merupakan dasar bagi kreativitas yang perlu dikembangkan guru dalam menyediakan pembelajaran bermakna bagi siswa di tengah pandemi yang masih terjadi.

Orangtua bisa memilih pembelajaran tatap muka terbatas, pembelajaran jarak jauh, atau kombinasi keduanya yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak dalam mengakses pembelajaran.

Kebijakan progresif ini menjadi tantangan dan kesempatan bagi guru untuk bisa memaksimalkan kombinasi pembelajaran tatap muka terbatas yang membiasakan penerapan protokol kesehatan, dan pembelajaran tatap maya yang memanfaatkan teknologi.

Dengan kombinasi kedua pembelajaran yang dikemas secara bermakna, dapat membantu siswa menutup kekurangan pembelajaran di masa pandemi.

FOKUS PROGRAM