Ceritakan Isi Buku untuk Membangun Percaya Diri Siswa

Ceritakan Isi Buku untuk Membangun Percaya Diri Siswa

Tak sekadar membaca buku, tetapi juga memahami isi serta mampu menceritakan isi buku kepada teman. Tujuannya, untuk membangun rasa percaya diri siswa. Itulah yang dipraktikkan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Afkari, kepada para siswanya yang bersekolah di lembaga pendidikan yang beralamat di Jalan Sawo, Dusun III Desa Baru, Kecamatan Batangkuis Kabupaten Deliserdang.

“Untuk mengembangkan potensi siswa, salahsatu program yang kami kembangkan di MIS Al-Afkari adalah Program Gerakan Gemar Membaca MIS Al-Afkari. Saya menginstruksikan kepada seluruh wali kelas –mulai kelas I sampai kelas VI–, agar meningkatkan budaya membaca bagi siswa, khususnya setelah mendapat pelatihan budaya membaca bersama Tanoto Foudation,” kata sang kepala madrasah, Dr. Mursal Aziz, M.Pd.I, kepada Sumut Pos, Kamis (7/4).

Mursal mengungkapkan, sebelum pandemi Covid-19, kegiatan gemar membaca dilakukan setiap hari. Terdiri dari Gemar Membaca Surah mulai pukul 07.30 hingga pukul 08:00 WIB. Dilanjutkan dengan membaca buku bergambar 15 menit sebelum jam istirahat pembelajaran.

“Buku yang kami pilih adalah buku bacaan bergambar yang disiapkan oleh guru. Bukunya berasal dari Perpustakaan Madrasah, Yayasan, dan Bantuan Tanoto Foundation,” jelasnya.

Namun di masa pandemi Covid-19 di mana belajar diutamakan secara daring, program membaca tidak lagi dilaksanakan setiap hari. Melainkan hanya pada jadwal-jadwal yang ditentukan. Program membaca dilakukan di sekolah secara tatap muka, namun mengikuti protokol kesehatan. “Didahului cuci tangan, tetap memakai masker, dan menjaga jarak,” cetus salahsatu fasilitator daerah komunikasi Deliserdang Program Pintar Tanoto Foundation ini.

Program membaca di MIS Al-Afkari dipandu masing-masing wali kelas. Kelas I misalnya, dipandu Ibu Dwi Rianti, kelas II dipandu Liza, Kelas III dipandu Winda Simanjuntak, Kelas IV dipandu Suwandi, Kelas V dipandu Siti Aisyah, dan kelas VI dipandu Nurul Fitri Harahap. Program juga didukung oleh guru agama, Susi Hardiani.

Program diawali oleh guru dengan membagikan buku bergambar kepada siswa. “Kemudian, masing-masing wali kelas mengarahkan dan mengelola siswa agar membaca buku dengan topik-topik dan metode yang menarik, sehingga siswa bersemangat membaca,” katanya.

Selanjutnya, siswa diberikan waktu 30 menit sampai 1 jam untuk membaca. Selanjutnya, para siswa dipersilakan secara bergilir untuk menyampaikan isi buku yang dibacanya kepada teman-temannya. Usai bercerita, teman-temannya diminta menanggapi.

Konsep membaca dan menceritakan isi buku ini, dinilai menjadi tantangan untuk membangun kepercayaan diri siswa agar berani menyampaikan isi bacaan kepada teman-temannya. “Awal program, banyak siswa yang malu-malu bercerita di depan teman-temannya. Tetapi setelah berlangsung beberapa waktu, siswa semakin mahir membaca sekaligus bercerita, dan semakin percaya diri tampil,” beber Mursal dengan nada gembira.

Selain makin percaya diri, siswa juga ternyata semakin senang membaca buku, khususnya buku bergambar, karena didampingi oleh guru atau wali kelas masing-masing. “Rata-rata siswa mampu menyelesaikan pembacaan buku yang dibagi,” katanya bangga.

Apa beda program membaca MIS Al-Afkari sebelum dan sesudah Covid-19? “Konsepnya sama saja. Yang berbeda hanya penerapan protokol kesehatan, yaitu cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak,” ulangnya.

Program membaca ini tetap digelar di pandemi Covid-19, karena menurut sang kasek, sekolah bertanggung jawab untuk tetap konsisten mengembangkan potensi siswa.

FOKUS PROGRAM