Upaya Guru Perdesaan Sungai Apit Membuat Siswa Belajar Blended

Upaya Guru Perdesaan Sungai Apit Membuat Siswa Belajar Blended

SMPN 4 Sungai Apit, Siak, Riau, menerapkan pembelajaran blended (campuran). Mereka menyelenggarakan pembelajaran tatap muka terbatas, tatap maya melalui zoom, dan penugasan luring untuk memastikan semua siswa dapat mengikuti pembelajaran.

SMPN 4 Sungai Apit, Siak, Riau, menerapkan pembelajaran blended (campuran). Mereka menyelenggarakan pembelajaran tatap muka terbatas, tatap maya melalui zoom, dan penugasan luring untuk memastikan semua siswa dapat mengikuti pembelajaran.

Siak, Riau – Pandemi mendorong guru mencari beragam cara untuk bisa memberi pembelajaran kepada siswa. Seperti yang dilakukan Mardiyati, guru yang mengajar di SMPN 4 Sungai Apit. Dia menerapkan pembelajaran blended (campuran) yang dilaksanakan daring tatap maya, tatap muka terbatas, dan penugasan luring.

“Di daerah kami termasuk zona kuning dan selama ini banyak siswa yang juga kesulitan mengakses pembelajaran daring. Atas pertimbangan tersebut sekolah kami melaksanakan pembelajaran blended,” jelas Mardiyati yang sekolahnya berada di perdesaan dengan jarak sekitar 45 km dari Kota Siak.

Menurut Mardiyati, pada pembelajaran tatap muka siswa dibagi dua kelompok A dan B. Untuk kelompok A datang ke sekolah pada hari Senin dan Rabu. Sementara kelompok B datang pada hari Selasa dan Kamis. Pada hari Jumat dan Sabtu pembelajaran dilaksanakan secara daring melalui WA atau Zoom.

Dalam satu hari, siswa akan belajar dua mata pelajaran @40 menit sehingga tatap muka setiap harinya dilaksanakan selama 80 menit. Para guru juga memberikan tugas untuk siswa kerjakan di rumah.

Setelah itu, diskusi pelajaran dilanjutkan melalui WhatsApp grup untuk pengayaan sekitar 90 menit. Seminggu sekali Mardiyati dan para guru juga melakukan pembelajaran secara daring via Zoom.

“Hanya memang untuk pembelajaran daring ini tidak semua siswa bisa mengikuti karena berbagai keterbatasan. Jadi solusinya siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring mendapat tambahan tugas luring ketika ikut belajar tatap muka di sekolah,” kata guru yang juga fasilitator Tanoto Foundation tersebut.

Jamaluddin, salah seorang siswa siswa kelas VII, menjelaskan walaupun belajar jarak jauh tetapi dia tetap berupaya mengikutinya. “Kalau ingin ikut pembelajaran daring, saya harus ke rumah nenek yang jaraknya sekitar 10 menit kalau naik sepeda motor,” kata Jamal yang tinggal di daerah perkebunan nanas.

Menemukan Konsep Himpunan

Jamaludin menceritakan salah satu hasil karyanya tentang himpunan setelah mengikuti pembelajaran blended. Ada beberapa kegiatan yang ia lakukan untuk mempelajari konsep himpunan dari gurunya. Dia memperlihatkan empat kategori gambar, yaitu gambar hewan, gambar bilangan genap, gambar sepatu, dan gambar bunga sebagai contoh himpunan dan bukan himpunan.

Misalnya gambar hewan, ada empat jenis hewan berbeda di gambar tersebut yang memiliki kesamaan, yaitu sama-sama punya empat kaki dan berjenis mamalia, maka Jamaludin mengkategorikan contoh tersebut sebagai himpunan.

Sedangkan untuk contoh bukan himpunan, Jamaludin menampilkan gambar empat pasang sepatu yang tidak memiliki kesamaan, baik itu dari segi bentuk dan warna.

“Dari kegiatan ini kita bisa menyimpulkan himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang memiliki ciri-ciri yang sama dan jelas. Sedangkan yang bukan himpunan ciri-cirinya tidak sama,” jelas Jamaludin.

Setelah memahami konsep himpunan dan bukan himpunan, pada kegiatan selanjutnya Jamaludin menjelaskan bagaimana caranya untuk menyelesaikan soal himpunan.

“Jika ‘P’ adalah bilangan asli yang kurang dari 10, maka ‘P’ adalah satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan sembilan,” ucap Jamaludin sambil menunjuk tabel soal himpunan yang sedang ia jelaskan.

Lalu Jamaludin menjelaskan contoh himpunan yang ada di kehidupan sehari-hari. Ia menyebut peralatan dapur yang ada di rumahnya seperti panci, piring, pemanggang, dan pisau. Empat peralatan tersebut adalah contoh himpunan karena memiliki kesamaan, yaitu sama-sama diawali oleh huruf “P”.

Terkait Kehidupan Sehari-hari

Setelah kegiatan selesai, Jamaludin mengambil kesimpulan bahwa belajar tentang himpunan berguna untuk kehidupan sehari-hari. Dengan belajar himpunan, kita bisa memutuskan dan mengambil tindakan atas suatu keadaan.

Dia memberi contoh dengan menampilkan potongan kertas bertuliskan gejala-gejala sakit yang sering dialami orang. Jika kita menemukan empat gejala sakit seperti batuk kering, kelelahan, demam tinggi, dan sesak nafas, berarti kita bisa menarik kesimpulan bahwa orang tersebut diduga mengidap covid. Setelah itu kita bisa mengambil tindakan untuk segera mengatasi gejala tersebut.

“Jamaludin padahal termasuk anak yang tinggal di daerah tanpa sinyal tetapi semangat belajarnya sangat tinggi. Dia mau harus pergi ke rumah neneknya jika ingin belajar daring bersama guru-gurunya,” ungkap Mardiyati.

FOKUS PROGRAM