Tutorial Membuat Termometer Sendiri di Rumah

Tutorial Membuat Termometer Sendiri di Rumah

Oleh Wiwik Kustiananingsih, Fasilitator Daerah Balikpapan dan Pengajar MIN 1 Balikpapan

Balikpapan – Saya saat ini aktif sebagai pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Balikpapan atau biasa disebut Minsaba. Saya juga merupakan seorang fasilitator daerah Balikpapan yang mengadopsi unsur pembelajaran aktif dalam pembelajaran IPA untuk kelas V. Dalam kesempatan kali ini saya mengajak siswa untuk memahami perpindahan kalor dengan melakukan serangkaian penyelidikan.

Penyelidikan untuk menelaah suhu dan kalor ini dapat diterjemahkan dengan membuat termometer sendiri di rumah. Siswa disarankan untuk melibatkan orangtua. Saya juga terus memandu siswa supaya percobaan di rumah dapat menjawab penugasan yang telah diberikan.

Saya harus memberikan panduan dasar, bahwa suhu dan kalor itu berbeda. Suhu adalah ukuran energi pada benda, sedangkan kalor adalah perpindahan energi tersebut. Lalu saya menjelaskan apa saja yang harus dipersiapkan. Misalnya, siswa harus menyiapkan botol, sedotan, pewarna, air biasa dan air panas, plastisin, kertas hingga mangkuk.

Penugasan ini berguna untuk membimbing siswa dan orangtua di rumah menemukan konsep suhu dan kalor. Tujuannya merangsang kemampuan berpikir kritis siswa, seperti:

1. Apa yang terjadi bila botol tersebut dimasukkan ke dalam mangkuk yang berisi air panas dan air biasa?

2. Adakah perbedaan antara botol yang dimasukkan ke dalam mangkuk yang berisi air panas dan botol yang dimasukkan ke dalam mangkuk yang berisi air biasa?

3. Apa yang terjadi bila botol tersebut tidak ditutup dengan plastisin?

4. Buatlah laporan hasil percobaan kalian.

Salah seorang siswi kelas V, Devani Salsabila Wulansari membuat botol berisi air merah. Botol tersebut dilengkapi sedotan di atasnya dan dilekatkan dengan plastisin. Dari botol itu, Devani dan ibunya menguji coba di air panas dan air biasa. Ternyata ada perbedaan tingkat air di dalam sedotan dalam botol. Pada air biasa, air di dalam sedotan tidak naik, sedangkan pada air panas, air di dalam sedotan meningkat.

Perbedaan tersebut terjadi karena air dalam sedotan memuai ketika terendam panas. Pemuaian mendorong cairan keluar dari botol kaca ke sedotan yang akan menunjukkan suhu pada pengukuran suhu.

Saya meminta ulang siswa mencoba dengan perlakuan berbeda. Saya menyarankan mencoba dengan botol yang tidak ditutup plastisin. Hasilnya sama, tidak ada perubahan. Ini karena tidak ada tekanan terhadap uap yang keluar ke dalam satu saluran ke atas. Dari proses ini, Delvina kemudian merangkum semua dalam satu laporan.

“Menurut saya, belajar secara daring memerlukan ekstra kesabaran. Karena mengajari anak-anak seperti guru di sekolah tidaklah mudah. Sejauh ini, saya mengajak anak menemukan dulu baru bertanya. Jika terasa sulit, dan saya pun tidak menemukan jawabannya, saya biasanya mencari informasi sekundar melalui Google dan bertanya langsung ke guru,” ungkap Khusnul Chotimah, orang tua siswa Nur Royyan VB yang mengikuti proses perpindahan kalor secara daring.

Setelah pengumpulan tugas, kemudian saya menjelaskan perbedaan kalor dan suhu melalui aplikasi Zoom. Bahwa ini dua hal yg berbeda, derajat panas yang tinggi menyatakan suhu benda yang besar. Begitu pula sebaliknya, derajat panas yang rendah menyatakan suhu benda kecil.

Derajat panas dari suatu benda dapat diukur dengan cara sederhana, yakni menyentuh tangan pada benda yang ingin dirasakan suhunya. Namun, cara ini hanya berlaku untuk suhu yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Termometer tetap jadi alat untuk mengukur suhu yang akurat.

FOKUS PROGRAM