Tiga Gerakan Kepala SMPN 4 Tenggarong, Bisa Jadi Contoh Penerapan MBS yang Baik

Tiga Gerakan Kepala SMPN 4 Tenggarong, Bisa Jadi Contoh Penerapan MBS yang Baik

Kepala SMPN 4 Tenggaong, Agus Suparmanto berhasil meyakinkan orang tua siswa untuk ikut terlibat dalam program peningkatan mutu sekolah

Kepala SMPN 4 Tenggaong, Agus Suparmanto berhasil meyakinkan orang tua siswa untuk ikut terlibat dalam program peningkatan mutu sekolah

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, harus dilaksanakan dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS). Hal itu bisa ditunjukkan pengelola sekolah melalui kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas dalam pengelolaan sekolah.

Penerapan MBS tersebut juga sudah diterapkan oleh SMPN 4 Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Agus Suparmanto, sang kepala sekolah bersama warga sekolah menerapkan MBS dengan membuat tiga gerakan inspiratif. Dia melakukan perubahan dalam manajemen sekolah, pembelajaran, budaya baca, sampai melibatkan peran serta masyarakat.

Praktik baik MBS di sekolah ini mendapat apresiasi dari Prof Muchlas Samani, guru besar Universitas Negeri Surabaya, yang juga menjadi salah satu penggagas penerapan MBS di Indonesia.

“Upaya yang dilakukan Kepala SMPN 4 Tenggarong bersama guru, komite sekolah, dan orangtua merupakan penerapan MBS yang benar. Praktik baik ini perlu dicontoh dan disebarkan,” kata Prof Muchlas setelah mengetahui praktik baik MBS di sekolah tersebut.

Berikut adalah tiga gerakan inspiratif yang diterapkan Agus Suparmanto, Kepala SMPN 4 Tenggarong yang juga fasilitator MBS Program PINTAR Tanoto Foundation.

 

Ketua Paguyuban Kelas VIIC, Nilam Atmasari Maulida (kiri), dan VIIIC Hatri Ariyani (kanan). Mereka mengaku senang dilibatkan sekolah untuk mendukung proses pendidikan anak-anaknya.

 

Manajemen Sekolah yang Terbuka

Manajemen yang terbuka, menurut Agus langkah awal yang harus dilakukan sekolah bila mau melibatkan masyarakat dalam mengembangkan sekolah. Salah satu cara untuk melakukan manajemen terbuka adalah dengan melakukan pendekatan dengan komite dan orangtua siswa.

Misalnya ketika menyusun program sekolah, dia melibatkan komite sekolah dan orangtua. Selama rapat, mereka bersama-sama menyusun program dan perkiraan dana-dana yang dibutuhkan dan sumber dananya. Semua dilakukan secara terbuka.

Salah satu tantangan membangkitkan peran serta masyarakat adalah pengertian masyarakat yang salah tentang program pendidikan gratis.

“Banyak anggota masyarakat yang menganggap bahwa sekolah tidak lagi membutuhkan peran serta masyarakat karena semua sudah ditanggung pemerintah. Padahal yang ditanggung hanya dana operasional sekolah, masih banyak aspek-aspek lain yang perlu dibantu masyarakat, terutama terkait langsung dengan kebutuhan siswa itu sendiri dan lingkungan sekolah,” ujarnya

Misalnya, dalam masalah lingkungan, sekolah memiliki lahan yang amat luas, lebih dari dua hektar. “Nah itu kan tidak ditanggulangi oleh dana BOS bagaimana memberdayakan lahan yang luas tersebut, padahal bisa menjadi sumber belajar siswa yang amat besar. Akhirnya kami bersama-sama sepakat, salah satunya untuk membuat program satu warga sekolah satu pohon,” ujar Agus.

Pojok baca di kelas yang diperkaya dengan buku-buku bacaan milik siswa.

 

Jumpa Kopi untuk Tingkatkan Minat Baca Siswa

Salah satu program yang dijalankan oleh sekolah adalah program literasi. SMPN 4 Tenggarong kemudian membuat salah satu program yang disebut dengan Jumpa Kopi. Program ini adalah strategi untuk membuat koleksi buku di pojok baca ruang kelas SMPN 4 Tenggarong terasa selalu baru. Jumpa Kopi adalah akronim dari Jumat Pagi Koleksi Pindah.

Program ini dilaksanakan setiap Jumat pagi selepas para siswa melakukan senam pagi. Dikoordinir oleh masing-masing pengurus kelas, para siswa setiap kelas menukarkan koleksi buku bacaan di pojok-pojok baca kelas dengan kelas lainnya.

Misalnya, kelas VIIA bertukar koleksi buku dengan kelas VIIB, VIIC bertukar dengan VIIIA, IXA dengan IXB dan seterusnya.

Siswa kelas IX SMPN 4 Tenggarong sedang membuat alat peraga sistem reproduksi manusia untuk mereka presentasikan pada teman-teman sekelasnya.

 

Terapkan SIMAK, Sinergi Interaksi Memantau Aktif Pembelajaran di Kelas

Supervisi pembelajaran selama ini terasa kaku. Agus Suparmanto ingin supervisi bersifat lebih humanis, ada kesetaraan antara dia dengan gurunya karena tujuan supervisi menurutnya adalah pembinaan.

“Yang konvensional, biasanya guru dipanggil, kemudian kepala sekolah membuat check list dan menilai guru yang sedang mengajar. Itu membuat ada jarak antara guru dan kepala sekolah,” ujar Agus.

Untuk itu, Agus mengadakan supervisi dengan cara team teaching atau mengajar bersama.

“Ini agak ribet sebenarnya dibandingkan kita melakukan supervisi konvensional, karena kita lihat dulu perencanaan mengajarnya, kita lakukan simulasi bersama, kemudian kita lakukan mengajar bersama di kelas. Hanya perubahan dalam pembelajaran lebih terlihat nyata,” katanya lagi.

Dia sering menemukan antara RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) para guru tidak sesuai dengan pelaksanaannya. Ada juga guru yang hanya mengajar di kelas. Siswa tidak diajak langsung belajar di kehidupan nyata.

“Jadi waktu pembelajaran IPA tentang tumbuhan itu, saya minta guru untuk langsung mengkoneksikan dengan kehidupan nyata. Akhirnya RPP kami ubah bersama sama. Pada waktu praktik, anak-anak pergi ke kebun sekolah, langsung mengidentifikasi tumbuhan, mengelompokkan berbagai macam tumbuhan, misalnya berdasarkan daunnya yang menyirip, sejajar, melengkung dan sebagainya,” ujarnya.

Inisiatif yang dilakukan kepala sekolah kini sudah bisa dilihat hasilnya. Para guru semakin termotivasi menerapkan pembelajaran aktif. Pajangan hasil karya siswa juga sudah bertebaran di semua kelas.

 

Berdampak pada Kepercayaan Masyarakat

Perubahan yang terjadi di sekolah ternyata membuat orangtua siswa yang bergabung dalam paguyuban kelas bersemangat membantu program-program sekolah.

Orangtua dilibatkan sekolah mulai dari menyusun perencanaan, pelaksanaan, sampai melakukan evaluasi program sekolah.

Mereka yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam program sekolah, kini sudah terlibat aktif.

Mulai dari pembuatan pojok baca kelas, taman membaca, sampai menanam pohon untuk menata keasrian sekolah. Termasuk membantu menyediakan kebutuhan pembelajaran aktif untuk anak-anaknya di kelas.

FOKUS PROGRAM