Tiga Gerakan Inspiratif MBS Kepala SMPN 4 Tenggarong

Tiga Gerakan Inspiratif MBS Kepala SMPN 4 Tenggarong

(Kiri) Kepala SMPN 4 Tenggarong, Agus Suparmanto, (mendampingi kelompok siswa di belakang) saat melakukan supervisi dengan model pendampingan. (Kanan) Setiap Jumat buku-buku bacaan di sudut baca kelas selalu diperbarui dengan cara bertukar koleksi buku antarkelas.

 

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Agus Suparmanto adalah kepala SMPN 4 Tenggarong yang melakukan banyak gerakan perubahan di sekolahnya. Ia pernah menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah, namun diakuinya setelah mengikuti pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation, semangatnya untuk mengubah sekolah menjadi semakin membara. Menurutnya Program PINTAR adalah ajian serat jiwa bagi sekolahnya, Ia menemukan beberapa ide untuk menggerakkan kemajuan sekolahnya. Berikut tiga gerakan inspiratif yang ia terapkan.

 

Manajemen Sekolah yang Terbuka

Langkah awal yang harus dilakukan untuk melibatkan masyarakat dalam mengembangkan sekolah adalah manajemen terbuka. Salah satu cara untuk melakukan manajemen terbuka adalah dengan melakukan pendekatan dengan komite dan orangtua siswa.

Misalnya ketika menyusun program sekolah, dia melibatkan komite sekolah dan orangtua. Selama rapat, mereka bersama-sama menyusun program dan perhitungan anggaran yang dibutuhkan dan sumber dananya. Semua dilakukan secara terbuka.

Salah satu tantangan membangkitkan peran serta masyarakat adalah pengertian masyarakat yang salah tentang program pendidikan gratis. “Banyak masyarakat yang menganggap sekolah tidak lagi membutuhkan peran serta masyarakat karena semua sudah ditanggung pemerintah. Padahal yang ditanggung hanya dana operasional sekolah. Masih banyak aspek-aspek lain yang perlu dibantu, terutama terkait langsung dengan kebutuhan siswa, sampai perbaikan dan pemanfaatan lingkungan sekolah,” ujarnya

Misalnya, dalam masalah lingkungan, sekolah memiliki lahan yang amat luas, lebih dari dua hektar. “Nah itu kan tidak ditanggulangi oleh dana BOS bagaimana memberdayakan lahan yang luas tersebut, padahal bisa menjadi sumber belajar siswa yang amat besar. Akhirnya kami bersama-sama sepakat, salah satunya untuk membuat program satu warga sekolah satu pohon,” ujar Agus.

 

Jumpa Kopi untuk Meningkatkan Minat Membaca Siswa

Salah satu program yang dijalankan oleh sekolah adalah program literasi, SMPN 4 Tenggarong membuat program yang disebut dengan Jumpa Kopi. Program ini adalah strategi membuat koleksi buku di pojok baca terasa selalu baru. Jumpa Kopi adalah akronim dari Jumat Pagi Koleksi Pindah.

Program ini dilaksanakan setiap Jumat pagi selepas para siswa melakukan senam pagi. Dikoordinir oleh masing-masing pengurus kelas, para siswa setiap kelas menukarkan koleksi buku bacaan di pojok-pojok baca kelas dengan kelas lainnya. Misalnya, kelas VIIA bertukar koleksi buku dengan kelas VIIB, VIIC bertukar dengan VIIIA, IXA dengan IXB dan seterusnya.

 

Terapkan SIMAK: Sinergi Interaksi Memantau Aktif Pembelajaran di Kelas

Supervisi pembelajaran selama ini terasa kaku. Agus Suparmanto ingin supervisi bersifat lebih humanis, ada kesetaraan antara dia dengan gurunya karena tujuan supervisi menurutnya adalah pembinaan. “Yang konvensional, biasanya guru dipanggil, lalu kepala sekolah membuat check list dan menilai guru yang sedang mengajar. Itu membuat ada jarak antara guru dan kepala sekolah,” ujar Agus.

Untuk itu, Agus mengadakan supervisi dengan cara team teaching atau mengajar bersama. “Jadi kita lihat dulu perencanaan mengajarnya, kita lakukan simulasi bersama, kemudian kita lakukan mengajar bersama di kelas,” ujarnya.

Ia sering menemukan RPP para guru tidak sesuai dengan pelaksanaannya atau kadang unsur-unsur MIKIRnya (mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi) tidak terlalu terkoneksi. Guru juga hanya mengajar di kelas dan tidak membawa pembelajaran langsung di kehidupan nyata.

“Waktu pembelajaran IPA tentang tumbuhan, saya minta guru langsung mengkoneksikan dengan kehidupan nyata. Akhirnya RPP kami ubah bersama. Pada waktu praktik, anak-anak pergi ke kebun sekolah. Mereka mengidentifikasi tumbuhan, mengelompokkan berbagai macam tumbuhan, misalnya berdasarkan daunnya yang menyirip, sejajar, melengkung, dan sebagainya,” ujarnya.

Inisiatif yang dilakukan Agus Suparmanto kini sudah bisa dilihat hasilnya. Para guru semakin termotivasi menerapkan pembelajaran aktif. Orangtua siswa yang bergabung dalam paguyuban kelas juga bersemangat membantu programprogram sekolah.*

FOKUS PROGRAM