Survey Orangtua Kegiatan Belajar dari Rumah: Hilangkan Tugas Meringkas Buku dan Mengerjakan Soal

Survey Orangtua Kegiatan Belajar dari Rumah: Hilangkan Tugas Meringkas Buku dan Mengerjakan Soal

Survei yang dilakukan SMPN 2 kendal, Jawa Tengah kepada orangtua siswa untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dari rumah diperoleh data bahwa penugasan yang memberatkan siswa adalah meringkas buku bacaan dan mengerjakan soal-soal di buku paket. Berdasar hasil survei tersebut, para guru dilarang memberikan dua jenis tugas tersebut.

Survei yang dilakukan SMPN 2 kendal, Jawa Tengah kepada orangtua siswa untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dari rumah diperoleh data bahwa penugasan yang memberatkan siswa adalah meringkas buku bacaan dan mengerjakan soal-soal di buku paket. Berdasar hasil survei tersebut, para guru dilarang memberikan dua jenis tugas tersebut.

Kendal, Jawa Tengah – Kebijakan belajar di rumah yang diterapkan sejumlah pemerintah daerah dalam menyikapi pandemi Covid-19 telah berjalan satu minggu. Ada beragam cara yang dilakukan guru mulai pembelajaran daring, sampai memberikan penugasan kepada siswa.

Hanya saja ada pengaduan orangtua yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait dengan penugasan oleh guru terhadap anak selama belajar di rumah. Banyak anak yang stres akibat diberi banyak tugas secara daring oleh guru.

“KPAI menerima pengaduan sejumlah orangtua siswa yang mengeluhkan anak-anak mereka malah stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/3/2020). Retno menduga banyak guru tidak memahami konsep belajar dari rumah atau home learning. Hal ini membuat guru memberikan banyak tugas ke siswa.

 

Buat Survei Layanan Aspirasi

“Untuk mengetahui efektivitas pemberian penugasan kepada siswa, kami mengadakan survei kepada orangtua untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di rumah. Survei tersebut diberi nama Layanan Aspirasi Orangtua,” kata Supardi, Kepala SMPN 2 Kendal, Jawa Tengah.

Ada beberapa item pertanyaan yang diberikan pada 239 orangtua siswa SMPN 2 Kendal. Tujuan survei ini untuk mengevaluasi dan mencari solusi agar siswa dan orangtua tidak merasa tertekan saat belajar di rumah.

Hasilnya, 94,1%, orangtua siswa mendampingi anak-anaknya belajar dirumah, sedangkan sisanya tidak mendampingi.

Untuk pertanyaan “apakah orangtua mendampingin anak-anaknya di rumah.”  Sebanyak 78,2% orangtua menyebut tugas yang diberikan guru tidak memberatkan anak-anaknya dan 21,8% sisanya menyebut memberatkan.

Jenis tugas yang disebut memberatkan, 58% tugas meringkas dan mencatat ulang buku, dan 42% mengerjakan soal-soal latihan.

Dalam Survei ini juga didapatkan data; 55% orangtua menginginkan tugas online; 15% menginginkan pembelajaran teleconference;  10% kunjungan ke rumah; dan 20% menghendaki penggunaan google classroom serta aplikasi pembelajaran online.

 

Buat Tugas yang Menarik

Berdasarkan hasil survei tersebut, menurut Supadi, kepala sekolah dan semua guru bersepakat bahwa tidak ada lagi pemberian tugas meringkas buku atau hanya mengerjakan soal.  Penugasan yang diberikan kepada siswa harus menarik dan mendorong kreativitas siswa. Bagaimana bentuknya?

 

1, Memberikan Pesan Cegah Penyebaran Covid-19

Setiap memberikan tugas kepada siswa, pesan utama yang diberikan adalah menjaga kebersihan diri, cuci tangan dengan sabun, dan hindari keluar rumah jika tidak ada keperluan penting. Beberapa tugas mata pelajaran juga terintegrasi untuk mendorong siswa lebih sadar dan memahami pencegahan penularan covid-19.

Mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia misalnya, siswa ditugaskan membaca referensi tentang virus Covid-19 dan penanggulangannya. Lalu siswa ditugaskan membuat teks persuasif mencegah penularan virus Covid-19. Ada juga tugas menulis surat pribadi untuk memotivasi sahabat menghadapi wabah ini.

Pada mapel Pendidikan Jasmani dan Olahraga, siswa ditugaskan berolahraga ringan di rumah selama 30 menit setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuh.

Para guru juga merancang pembelajaran proyek yang mengintegrasikan beberapa mapel dengan tema Stop the Spread of the Covid 19 Pandemic.

Guru mapel yang terkait seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika membuat materi dan penugasan proyek bersama. Siswa mengerjakan tugas proyek yang tagihannya relevan untuk pencapaian kompetensi dasar setiap mapel.

Misalnya membuat poster mencegah penyebaran Covid-19 yang di dalamnya memuat kemampuan siswa mencari informasi (IPS), mengolah data dan menyajikan data dalam bentuk grafis (matematika dan IPA), serta menggunakan kalimat yang efektif (Bahasa Indonesia). Penugasan proyek seperti ini dikerjakan dalam waktu satu minggu.

 

2. Pembelajaran Aktif Daring

Sebagian guru juga memanfaatkan google classroom untuk menerapkan pembelajaran daring yang mendorong siswa belajar aktif.

Pembelajaran interaktif daring tersebut juga mendorong siswa melakukan percobaan IPA, praktik percakapan bahasa Inggris dengan memanfaatkan google voice, atau pemecahan soal matematika yang terkait dengan kehidupan sehari-hari.

 

3. Penugasan Berbasis Portofolio

Setiap jam mata pelajaran berlangsung, guru akan mengirimkan materi dan Lembar Kerja (LK) melalui WatsApp Group (WAG) orangtua siswa. LK yang diberikan siswa memuat pertanyaan produktif, terbuka, atau imajinatif. Tujuannya agar siswa tetap aktif, kreatif, dan produktif dalam belajar di rumah.

Para guru mata pelajaran akan memantau diskusi di WAG kelas, terutama bila ada pertanyaan dari siswa atau orangtua. Tugas yang sudah dikerjakan siswa, difoto dan dikirimkan kembali melalui WAG orangtua sehingga hasilnya bisa diketahui bersama. Cara ini membuat komunikasi antara siswa, orangtua, dan guru dalam belajar di rumah lebih konstruktif.

Hasil tugas tertulis juga dikumpulkan siswa menjadi portofolio. Siswa menyimpan hasil karya dari tugas yang dikerjakan dalam file portofolio.

Setiap hasil karya diberi identitas lengkap mulai dari hari, tanggal, mata pelajaran, dan jam pelaksanaannya. Pada saat kembali masuk ke sekolah, mereka akan membawa portofolio tersebut sebagai sumber belajar bersama.

 

 

FOKUS PROGRAM