Stem at Home – Tetap Bisa Jadi Seperti Ilmuwan Meski di Rumah

Stem at Home – Tetap Bisa Jadi Seperti Ilmuwan Meski di Rumah

Banyak para ilmuwan terdahulu yang terlahir dari percobaan ilmiah mandiri dan dari rumah saja. Sebut saja yang popular Thomas Alfa Edison. Meskipun hanya bermula dari rumah, namun tidak mengurangi produktifitas para ilmuan untuk menciptakan produk yang bermanfaat untuk manusia. Dengan pendekatan STEM sangat memungkinkan sekali menjadikan mahasiswa kita layaknya ilmuwan, meskipun hanya dari rumah.

STEM mengintegrasikan empat disiplin ilmu (Science, Technology, Engineering, Mathematic) ke dalam paradigma pembelajaran yang kohesif berdasarkan aplikasi dunia nyata dan kehidupan dunia profesional. Hal ini menjadi skill penting dalam dunia kerja abad 21, yang menginginkan individu dengan keterampilan mempu menyelesaikan masalah, berpikir kritis, membuat keputusan, komunikasi, kerja tim dan literasi digital.

Dalam pelaksanaan STEM dari rumah ini kita menggunakan video conference dan berbagai media sosial (seperti Instagram dan Youtube) sebagai media interaksi & komunikasi. Penggunaan berbagai media tersebut kian memberikan pembelajaran STEM yang kaya dan sarat pengalaman. Alasan berikutnya adalah mahasiswa sekarang adalah generasi milenial yang akan lebih mudah mencari dan menyerap informasi melaui jejaring sosial mereka. Jauh lebih mudah bagi mereka berselancar di google, mendengar berbagai informasi visual ketimbang melalui teks dan mendengar ceramah pengajar.

Dimulai dari tantangan yang diberikan pengajar dilanjutkan dengan mencari sumber informasi relevan terkait tantangan yang diberikan. Dalam hal ini dosen dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mengunjungi beberapa situs STEM Challenges seperti Science Bob’s, stem.org.uk, thestemlaboratory.com dan lainnya.

Situs-situs tersebut merupakan situs yang bisa dicoba secara gratis dengan pembatasan konten atau pembatasan waktu akses. Dari situs-situs tersebut tersebut mahasiswa dapat melihat berbagai project STEM baik dalam bentuk video maupun worksheet sehingga memperkaya informasi terkait project yang akan mereka pilih untuk menjawab tantangan yang diberikan.

Berikutnya adalah kegiatan perancangan untuk mengidentifikasi solusi potensial. Tahapan ini yang membedakan STEM dengan pendekatan hand’s on activity lainnya. Bagaimana mereka memikirkan solusi terbaik atas masalah yang dihadapi. Solusi yang diidentifikasi juga memungkinkan lebih dari satu. Misalnya ketika mereka akan membuat excavator sederhana dengan menerapkan prinsip Pascal dan konsep Tuas.  mereka akan merekayasa berbagai ukuran spuit (suntikan) untuk menemukan desain excavator dengan daya angkat besar namun tetap efisien. Pada tahapan ini rancangan solutif awal akan di share melalui IG dan dosen memberikan feedback.

Tahapan berikutnya yakni melaksanakan uji produk dan mengamati potensi masalah baru yang muncul untuk proses redesain. Salah satu karakter mata pelajaran IPA di modul 2 Tanoto Foundation adalah melalui penyelidikan dan uji coba siswa dapat menemukan konsep IPA. Tahapan ini menjadi penting karena tidak cukup hanya satu kali percoban untuk menghasilkan produk yang sesuai harapan. Banyak kendala teknis yang muncul.

Misalnya ketika membuat excavator sederhana semula bahan yang digunakan adalah kardus. Ketika diuji cobakan ternyata kardus tidak punya ketahanan yang baik. Sehingga proses penyempurnaan produk mengarahkan pada penggunaan bahan yang lebih kuat. Mahasiswa bisa browsing desain excavator lainnya tanpa mengubah prinsip awal yang digunakan. tahapan ini dilaksanakan menggunakan zoom meeting. Pengajar dan mahasiswa bisa sama-sama me review secara pleno.

Berikutnya adalah mempresentasikan produk terbaik yang dihasilkan. Presentasi dilakukan kepada teman, guru dan masyarakat luas. Prsentasi produk ada dua yakni laporan tertulis dan presentasi di media online menggunakan platform Youtube dan Instagram. Untuk presentasi di media online, tiap kelompok harus saling memberikan review dikolom komentar. Hal tersebut agar mengetahui sejauh mana pencapaian proyek di tinjau dari sudut pandang orang lain.

Dari sekian banyak alur yang harus dilalui selama proses pembelajaran, yang harus jadi perhatian penting pengajar yakni pengaturan waktu dan proses monitoring evaluasi. Pertama, pengaturan waktu yang digunakan selama project STEM ini memang dibutuhkan waktu yang lama. Biasanya kami targetkan 2-3 minggu hingga proses pelaporan. Kedua, monitoring evaluasi senantiasa dilakukan secara cepat dan tepat, sebagai feedback bagi tim untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Oleh:

Erna Suhartini, S.Pd., M.Pd, Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Mulawarman (UNMUL)

FOKUS PROGRAM