Pop Up Literasi, Media Belajar Kreatif di Masa Pandemi

Pop Up Literasi, Media Belajar Kreatif di Masa Pandemi
Ratih Widyaningrum Sedang membelajarkan lierasi kepada siswa melalui Pop Up Book

Ratih Widyaningrum sedang menggunakan Media Belajar berupa Pop Up Book untuk menguatkan literasi siswa di kelasnya.   

Oleh Ratih Widyaningrum, Guru SDN 1 Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah dan Fasilitator PINTAR Tanoto Foundation

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menantang guru mampu memfasilitasi siswa dengan pembelajaran menarik dan efektif meskipun tidak tatap muka langsung. Hal lain yang menantang guru adalah memastikan budaya literasi tetap tumbuh dan berkembang dalam diri siswa di masa pandemi.

Gerakan Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun juga mencakup keterampilan berpikir sesuai dengan tahapan dan komponen literasi.

Mengutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional tahun 2017, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menetapkan 6 (enam) literasi dasar yang harus dikembangkan. Yaitu baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Mengacu pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat di tengah pandemi covid-19, gerakan literasi sangat dibutuhkan bagi semua jejang.

Praktik baik di SD Negeri 1 Cilongok Banyumas yang bisa dibagi terkait pengembangan literasi melalui kegiatan “Fun Literasi” terdiri atas 8 kegiatan. Yaitu: Rantai Literasi, Habit Literasi, Mata Literasi, Booming Literasi, Mading Literasi, Pojok Baca Pojok Kreasi (Pojok Literasi), Reward Literasi, dan One Child One Book.

Pelaksanaan kegiatan literasi dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung atau juga terinternalisasi dalam pembelajaran. Misal melalui kegiatan rantai literasi (membaca 15 menit sebelum pembelajaran) siswa. Dalam kegiatan ini beragam media bisa digunakan guru untuk menguatkan proses literasi. Salah satunya adalah Pop Up Book.

Pop Up Book merupakan satu bentuk media pembelajaran yang digunakan guru untuk menarik minat siswa dalam berliterasi dan memahami materi pembelajaran. Media ini berbentuk buku menarik berisi gambar tampilan 3 dimensi yang dibuat untuk memudahkan pemahaman siswa.

Diawali oleh guru membaca cerita tentang suatu kejadian atau kisah yang dapat meningkatkan karakter, budi pekerti luhur dan pengetahuan faktual. Dalam waktu yang sama siswa menyimak cerita guru dan melihat Pop Up Book melalui gawai masing-masing melalui platform belajar online seperti google meet atau video pada Whatsapp Group (WAG). Hal ini membuat siswa  lebih mudah dan cepat dalam memahami dan menyimpulkan pesan yang disampaikan oleh guru.

Sebagai tindaklanjut dari penggunaan media ini, siswa dipandu juga untuk menghasilkan karya-karya literasi seperti puisi, karangan, video bercerita, karya kerajinan dari bahan limbah dan berbagai karya lainnya. Tentunya dengan tetap didampingi oleh orang tua di rumah untuk membiasakan diri gemar berliterasi sesuai kegiatan habit literasi.

 Pop Up Book yang dibuat guru dapat disesuaikan dengan tema pembelajaran, misalnya tema makhluk hidup untuk kelas VI (enam). Guru menggunakan gambar-gambar makhluk hidup yang dibuat 3 dimensi untuk memberikan gambaran visual secara nyata tentang makhluk hidup di lingkungan tempat tinggal siswa. Dilengkapi juga dengan gambar lain yang relevan seperti makanan, tumbuhan, dan lingkungannya. Hal ini dimaksudkan agar siswa memahami gambaran visual serta informasi bacaan secara utuh.

Dalam pembelajaran kelas tinggi, guru  membaca cerita dengan nyaring (read aloud). Sementara siswa menyimak sambil mengamati pop up book. Kegiatan dilanjutkan dengan bertanya jawab tentang tokoh, watak, alur cerita, tempat, dan waktu kejadian. Setelah itu siswa diminta mengekspresikan diri sesuai dengan tokoh cerita. Siswa aktif menjawab pertanyaan. Siswa juga diberi kesempatan menebak tindakan tokoh, menyimpulkan pesan yang terkandung dalam cerita dan menebak akhir dari cerita sesuai imajinasi mereka. Sebelum kegiatan Read Aload berakhir, guru memberikan konfirmasi dan penguatan.

Pembelajaran dengan media Pop Up Book bisa digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Melalui media yang diamati,  siswa diajak untuk menjawab pertanyaan produktif yang mendorongnya berbuat dan melakukan aktivitas, pertanyaan imajinatif, dan pertanyaan terbuka. Respon siswa terhadap pertanyaan tersebut dilanjutkan dengan kegiatan diskusi interaktif menggunakan voice note dan chat pada aplikasi WhatsApp.

Pop Up Book juga digunakan sebagai media stimulant dalam pembelajaran. Misalnya pada kegiatan pengamatan tentang lingkungan di sekitar rumah siswa. Guru bisa memberikan pertanyaan eksploratif, misalnya apa saja komponen makhluk hidup yang ada di sekitar rumahmu, mengapa kita harus menjaga keseimbangan lingkungan, apa dampak yang terjadi ketika manusia tidak menjaga lingkungannya, bagaimana jika makhluk hidup di sekitar kita mengalami kepunahan. Dengan pertanyaan tersebut, siswa diajak untuk berpikir kritis melalui literasi visual pada Pop Up Book dan keadaan nyata di sekitar rumah dan hutan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kombinasi lainnya adalah dengan memberikan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang menugaskan siswa untuk mengidentifikasi dan melakukan pengamatan tentang makhluk hidup dan lingkungannya. Sebagai kegiatan tindak lanjut siswa membuat karya-karya yang bermanfaat dari limbah sebagai aksi nyata peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

Media pop up book menjadikan pembelajaran semakin interaktif dan bermakna bagi siswa. Untuk memfasilitasi siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar online, guru menyiapkan modul dan evaluasi secara offline.

 

FOKUS PROGRAM