Peran Kepala Sekolah Menyongsong Tahun Ajaran Baru di Masa Pandemi

Peran Kepala Sekolah Menyongsong Tahun Ajaran Baru di Masa Pandemi

Orangtua siswa SDN 2 Patukangan mendampingi anaknya belajar dari rumah. Pada tahun ajaran baru, kepala sekolah, guru, dan orangtua perlu bersinergi untuk menyiapkan berbagai alternatif pembelajaran untuk anak.

Orangtua siswa SDN 2 Patukangan mendampingi anaknya belajar dari rumah. Pada tahun ajaran baru, kepala sekolah, guru, dan orangtua perlu bersinergi untuk menyiapkan berbagai alternatif pembelajaran untuk anak.

Sejak wacana new normal digulirkan, para pelaku pendidikan telah bersiap menyambutnya. Semua satuan pendidikan mau tidak mau harus bersiap dengan berbagai alternatif strategi.

Kepala sekolah, guru, siswa, dan orangtua, harus bersinergi dalam menyiapkan berbagai pilihan menghadapi tahun ajaran baru di masa pandemi. Ninik Chaeroni, Kepala SDN 2 Patukangan, Kendal, Jawa Tengah, memaparkan strategi yang dia lakukan untuk penyelenggaraan pembelajaran di masa new normal atau kenormalan baru dalam pendidikan.

 

Mengevaluasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Sebelum masa tahun ajaran selesai, Ninik selaku kepala sekolah melakukan evaluasi PJJ yang sudah dilaksanakan para guru. Hasilnya sebagai berikut:

1. Lebih dari 85% siswa mendapatkan kendala PJJ karena gawai yang digunakan belajar siswa dibawa oleh orangtua di tempat kerja sehingga waktu belajar siswa menyesuaikan dengan waktu kepulangan orangtua siswa ke rumah. Menghadapi kendala ini, para guru pemberian waktu yang fleksibel agar siswa tetap dapat belajar.

2. Untuk siswa kelas V dan VI yang menggunakan kombinasi aplikasi google classroom, google form, WhatsApp Group (WAG), dan memanfaatkan siaran TVRI sudah bisa berjalan optimal. Hal ini terjadi karena mereka bisa mengoperasikan gawai dan mendapat dukungan orangtua.

3. Terjadi kerja sama yang baik dan saling mendukung antarorangtua siswa dalam WAG. Bahkan mereka juga membantu orangtua dan siswa lain yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran.

 

Merevisi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS)

Sekolah perlu merevisi RKAS untuk menyesuaikan dengan pembelajaran di masa pandemi. Baik untuk pembelajaran daring, luring, atau tatap muka. Merujuk pada Permendikbud Nomor 19 Tahun 2020 Tentang Perubahan atas Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Juknis Bantuan BOS Reguler.

Ada tiga ketentuan terkait dengan perubahan pembiayaan:

1) biaya langganan barang dan jasa bisa digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan layanan pendidikan daring bagi guru dan siswa dalam rangka pembelajaran dari rumah;

2) pembiayaan administrasi sekolah bisa digunakan untuk membeli alat dan bahan kelengkapan pencegahan covid-19; dan

3) ketentuan tentang tidak berlakunya pembatasan honor 50% bagi guru.

Terkait hal di atas, sekolah mengoptimalisasi pembuatan sarana cuci tangan, pengadaan hand sanitazier, alat cek suhu badan maupun penyemprotan disinfektan di lingkungan sekolah. Termasuk dalam pengaturan tempat duduk, jadwal pembelajaran yang membuat siswa bisa menjaga jarak dalam pembelajaran, serta memastikan keamanan, kesehatan, dan keselamatan siswa.

Dengan asumsi bahwa siswa diizinkan kembali belajar di sekolah. Jika belajar dan mengajar tetap menggunakan PJJ, maka model yang selama ini sudah digunakan sejak awal pandemi harus mulai disesuikan untuk persiapan new normal, khususnya tahun ajaran baru.

Kegiatan PJJ yang sudah dilaksanakan selama masa kedaruratan kesehatan masyarakat, perlu kita kaji kembali berdasarkan masukan baik dari siswa, guru dan orangtua yang dibahas melalui WA paguyuban kelas.

Mereka harus dilibatkan dalam menentukan perbaikan dan penyempurnaan dalam PJJ berikutnya di masa new normal. Sekolah perlu mendukung kebutuhan pembelajaran untuk guru dan siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan regulasi pemanfaatan anggaran BOS.

Para orangtua siswa SDN 2 Patukangan, Kendal, Jawa Tengah bersepakat meluangkan waktu mendampangi anaknya belajar dari rumah.

Melibatkan Orangtua Siswa

Selama PJJ di masa pandemi, Ninik yang juga fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation menerapkan pembelajaran daring dan luring. Orangtua dilibatkan secara penuh untuk mendampingi anaknya belajar dari rumah.

Setiap jenjang kelas menggunakan aplikasi pembelajaran berbeda. Disesuaikan dengan tingkat usia dan keakraban terhadap gawai. Hal ini juga dimaksudkan untuk melatih kedisiplinan dan kemandirian siswa. Hasil evaluasinya pun sangat beragam.

Hasil evaluasi tersebut dipetakan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya. Dari segi orangtua, dilakukan evaluasi berdasarkan masukan dan keluhan orangtua. Keluhan yang butuh ditindaklanjuti salah satunya beberapa orang tua yang belum memiliki gawai pintar.

Dari keluhan itu, jalan keluarnya dengan menitipkan tugas siswa pada orangtua siswa yang berdomisili berdekatan untuk penyampaian tugas. Karena pembuatan tugas secara berkelompok tidak dianjurkan untuk mencegah penularan virus Covid-19.

Pada masa pandemi, orangtua memang merasakan “kekagetan” dengan pola pembelajaran yang harus diikuti siswa. Namun seiring waktu, orangtua bisa memahami dan mengerti akan kebutuhan tersebut dan guru bisa mendapatkan dukungan penuh. Gurupun siap membantu dan memandu setiap waktu apabila orangtua mengalami kesulitan.

Dengan dukungan kepala sekolah ini, bila new normal pendidikan diterapkan, maka semua warga sekolah sudah bisa mengantisipasinya. Yang terpenting, para guru tetap menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada anak.

FOKUS PROGRAM