Menulis Cerpen dengan Kantong Suara Tematik yang Kontekstual

Menulis Cerpen dengan Kantong Suara Tematik  yang Kontekstual

Siswa Kelas 9 SMP Negeri 2 Brangsong yaitu Umi Nur Latifah, Listiani, dan Natasya menunjukkan hasil karyanya yang berjudul usaha tidak menghianati hasil, timur vs barat, dan dibalik tangis ada tawa.

 

 Siswa Kelas 9 SMP Negeri 2 Brangsong yaitu Umi Nur Latifah, Listiani, dan Natasya menunjukkan hasil karyanya yang berjudul usaha tidak menghianati hasil, timur vs barat, dan dibalik tangis ada tawa.

Siswa Kelas 9 SMP Negeri 2 Brangsong yaitu Umi Nur Latifah, Listiani, dan Natasya menunjukkan hasil karyanya yang berjudul usaha tidak menghianati hasil, timur vs barat, dan dibalik tangis ada tawa.

Oleh Rias Anggun Satriana, S.Pd  Guru di SMP Negeri 2 Brangsong, sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menerbitkan Surat Edaran No. 15/2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah (BDR) dalam masa darurat. Edaran tersebut menegaskan tujuan dari pelaksanaan BDR. Tujuan tersebut memastikan pemenuhan hak siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna, melindungi dan mencegah penyebaran atau penularan virus corona, serta memastikan pemenuhan dukungan psiko sosial bagi pendidik, siswa, dan orang tua.

Rambu-rambu BDR dari Kemdikbud bukan berarti seketika menghilangkan hambatan PJJ. Selain kendala signal internet yang unstable dan tidak semua siswa memiliki gawai, ada juga kendala lemahnya literasi dan kemandirian belajar siswa. Karenanya ada beberapa aspek yang perlu dikuasai guru selama PJJ.

Pertama penting bagi guru memahami kompetensi dan materi dari rumusan kompetensi dasar (KD) esensial yang akan diajarkan sejalan dengan kecakapan hidup. Kedua terkait penyampaian materi, atau komunikasi antara guru dan siswa yang disebut sebagai hubungan pedagogis. Ketiga terkait langkah dan proses siswa untuk dapat memahami konteks belajar dan menyelesaikan masalah yang telah diskenariokan. Dalam hubungan siswa dengan materi atau disebut hubungan didaktis ini harus diperhitungkan kendala apa saja yang akan dihadapi dan sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya menumbuhkan sikap mental siswa untuk menyelesaikan masalah.

Pemahaman di atas mendasari pelaksanaan PJJ bahasa Indonesia KD 4.2 mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan pada siswa kelas IX. Keterampilan berbahasa pada KD ini adalah menulis, sebagai satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam berkomunikasi.

Hasil penelitian awal menunjukkan, siswa kesulitan menemukan diksi, merangkai kalimat dalam bentuk tulisan, mengawali sebuah cerita, kurang bisa mengembangkan kerangka karangan menjadi sebuah cerita yang utuh dan runtut, hingga tak mampu menemukan ide untuk menulis. Serentetan kendala tersebut berakibat kurang berhasilnya siswa dalam membuat cerita pendek, baik dari segi penokohan, alur cerita, maupun setting dalam cerita.

Keterampilan menulis Cerpen harus melalui proses pembelajaran dan latihan secara berkelanjutan. Akan tetapi, saat pandemi siswa sangat butuh motivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis Cerpen. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran kontekstual yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa.

Pendekatan belajar aktif juga diperlukan agar siswa mengalami secara langsung dengan cara melakukan dan mengamati, ada interaksi, komunikasi dan refleksi. Dengan dua pendekatan ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna.

Salah satu alternatif untuk memudahkan siswa menuliskan Cerpen adalah dengan “kantong suara tematik” yang telah dilakukan di SMP Negeri 2 Brangsong. Cara ini adalah pelaporan hasil tulisan siswa, dari tahap pencarian topik Cerpen sampai dengan menjadi Cerpen yang utuh. Setiap pertemuan, siswa membacakan progres tulisannya dalam bentuk pesan suara melalui WAG. Dengan cara ini diharapkan siswa bisa menjadi penulis sekaligus editor mandiri sebelum tulisannya dikirim ke guru.

Langkah-langkah PJJ dimulai dengan berbagi informasi berupa tujuan pembelajaran, materi atau bahan bacaan beserta contoh Cerpen yang dikirimkan melalui WAG. Materi dilengkapi dengan audio story yang berisi penceritaan Cerpen secara utuh. Tujuan pemberian audio story untuk memberi gambaran kepada siswa tentang cerita pendek bertema kehidupan sehari-hari dan diceritakan dengan bahasa yang santai dan runtut.

Kegiatan selanjutnya adalah memberikan penugasan. Guru membimbing siswa mengamati kejadian atau peristiwa yang muncul di sekitar mereka melalui lembar kerja peserta didik (LKPD). LKPD dilengkapi pemodelan agar membangun pemahaman siswa.

Sebelum mengisi tabel dalam LKPD, siswa diminta menentukan topik cerita. Lalu mengisi tabel berbagai kejadian yang muncul di lingkungan sekitarnya mereka. Contohnya siswa mengamati hiruk-pikuk kegiatan masyarakat di pagi, siang, maupun malam hari. Selain itu siswa juga diminta mengamati suasananya, mulai dari suara, warna langit, matahari redup atau terang, dan langit bersih atau berawan. Berbagai kejadian yang muncul tersebut digunakan untuk mengembangkan kerangka Cerpen. Melihat secara langsung berbagai kejadian memudahkan anak mengembangkan ceritanya.

Jika mucul kesulitan, teknik mengamati kejadian atau peristiwa dilengkapi dengan teknik mengumpulkan beberapa foto/gambar tematik untuk disusun menjadi kerangka cerita. Selanjutnya siswa menuangkan apa yang mereka temukan ke dalam kerangka Cerpen yang disampaikan dalam bentuk pesan suara di WAG.

Pertemuan selanjutnya, siswa melanjutkan kerangka cerita mereka menjadi tahapan Cerpen sesuai struktur melalui pesan suara di WAG. Kegiatan itu berlanjut sampai empat pertemuan hingga menjadi Cerpen secara utuh. Sekumpulan pesan suara berbasis pengalaman dan rangkaian foto se-tematik inilah yang disebut sebagai kantong suara tematik.

Di akhir pertemuan, guru meminta siswa mengirimkan tulisan Cerpen karyanya melalui email atau foto di grup. Setelah itu, bersama guru, siswa menyampaikan pesan dan kesan selama pembelajaran teks cerpen sebagai refleksi terkait pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian menulis teks cerpen diambil dari pemilihan diksi, pengembangan kerangka karangan, dan strukturnya.

Beberapa produk Cerpen yang dihasilkan siswa diantaranya Usaha Tidak Menghianati Hasil, Dibalik Tangis Ada Tawa, Timur vs Barat, Terhalang cita-cita, dan masih banyak lagi.  Mereka berani mengembangkan tulisan dengan diksi-diksi yang ringan. Selain itu mereka juga mampu mengilustrasikan suasana dengan baik dan runtut sesuai dengan strukturnya.

 

*Artikel ini telah tayang di Koran Radar Pekalongan tanggal 30 Desember 2020 halaman 8. Pada Kolom Opini Guru Hebat dan Inovatif Kolaborasi Tanoto Foundation dan Radar Pekalongan dengan judul Menulis Cerpen dengan Kantong Suara Tematik  yang Kontekstual.

 

FOKUS PROGRAM