Menguji Kandungan Glukosa dalam Urine

Menguji Kandungan Glukosa dalam Urine

Siswa memanaskan tabung reaksi yang berisi sampel urine ke dalam air mendidih selama 15 menit

Siswa memanaskan tabung reaksi yang berisi sampel urine ke dalam air mendidih selama 15 menit

Oleh Muhammad Taufik, Guru IPA SMPN 12 Tanjung Jabung Timur

Tanjab Timur, Jambi – Urine merupakan produk limbah dari tubuh yang dapat dijadikan indikator kesehatan. Urine normal hanya mengandung air, urea, amoniak, NaCl, pigmen empedu dan zat-zat yang berlebih dalam darah seperti vitamin, obat-obatan dan hormon. Adanya glukosa pada urine menandakan adanya gangguan pada fungsi tubuh. Umumnya hal ini dialami penderita diabetes.

Pada pembelajaran kali ini, saya mengajak siswa kelas VIII D SMPN 12 Tanjung Jabung Timur belajar berperan menjadi dokter dalam melakukan uji glukosa pada urine. Mengapa dokter? Karena dokter merupakan sosok yang dicita-citakan umumnya anak Indonesia. Hal ini bisa menjadi motivasi dan energi positif untuk membangkitkan semangat belajar siswa.

Di awal pembelajaran siswa dibentuk dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 siswa. Setiap siswa dalam kelompok mendapatkan lembar kerja (LK) yang berisi panduan dalam melaksanakan percobaan, menganalisis hasil, dan membuat kesimpulan. Alat yang diperlukan meliputi pipet tetes, tabung reaksi, labu ukur, rak tabung, penjepit kayu, gelas kimia, bunsen. Sedangkan bahannya adalah urine yang diduga normal maupun urine penderita diabetes, serta benedict sebagai reagen pendeteksi kandungan glukosa pada urine dan air.

Masing-masing kelompok menyiapkan dua tabung reaksi yang diberikan label urine diabetes dan urine normal sebanyak 2 ml untuk masing-masing sampel urine. Kemudian memasukan sebanyak 1 ml reagen benetict pada urine tersebut langkah selanjutnya memanaskan tabung reaksi yang berisi sampel urine kedalam air mendidih selama 15 menit.

Siswa diminta jeli mengamati perubahan-perubahan warna yang terjadi. Hasil percobaan menunjukan warna larutan urine yang berbeda-beda. Urine normal menunjukan warna biru menandakan tidak adanya glukosa dalam urine. Sedangkan urine pengidap diabetes ada yang kuning, oranye, merah dan merah bata. Perbedaan warna ini menunjukan tingkat kadar glukosa dalam urine.

Siswa berdiskusi untuk membahas temuan-temuan yang diperoleh selama percobaan berlangsung. Temuan tersebut diantaranya terbentuknya warna-warna yang berbeda, ada busa pada urine, terbentuknya gumpalan putih pada urine, dan sebagainya.

Setelah diskusi siswa diminta membuat laporan sementara dan mempresentasikannya di depan kelas. Sesi tanya jawab setelah kelompok mempresentasikan laporan, membuat pembelajaran berjalan dengan seru karena sampel urine yang beragam. Tentunya masing- masing kelompok memperoleh hasil yang beragam dan berbeda pula.

Siswa menunjukkan urine setelah diproses yang normal dan mengandung glukosa

“Dari hasil percobaan, kami menemukan urine yang normal setelah diproses berwarna biru. Hal ini menandakan tidak adanya glukosa dalam urine. Sedangkan pengidap diabetes setelah diproses urinenya berwarna merah. Warna merah ini menunjukkan adanya glukosa dalam urine,” kata salah seorang siswa dalam presentasinya.

Di akhir kegiatan siswa diminta menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan menuliskan pengalaman belajarnya sebagai refleksi bersama. “Pembelajaran ini sangat menarik dan membuat kami bisa praktik langsung menemukan urine yang normal dan mengidap diabetes,” tulis salah seorang siswa dalam refleksinya. Terakhir, saya juga mengingatkan semua siswa secara individu mengumpulkan laporan percobaan yang telah disempurnakan.*

FOKUS PROGRAM