Mainkan Alat Musik ‘Joyfull’ Bersama Siswa di Awal Tahun Belajar Di Rumah

Mainkan Alat Musik ‘Joyfull’ Bersama Siswa di Awal Tahun Belajar Di Rumah

Eksperimen bunyi – Farhan Adam, siswa kelas IV SDN 1 Cepiring, Kendal, Jawa Tengah terlihat sedang mencoba bunyi alat musik gelas dan air dari dapur yang dia siapkan bersama guru dan teman-temannya selama belajar dari rumah.

Eksperimen bunyi – Farhan Adam, siswa kelas IV SDN 1 Cepiring, Kendal, Jawa Tengah terlihat sedang mencoba bunyi alat musik gelas dan air dari dapur yang dia siapkan bersama guru dan teman-temannya selama belajar dari rumah.

 

Kendal –  Mendengarkan musik sering dilakukan oleh orang dewasa untuk menghibur diri, memperbaiki suasana hati yang buruk, dan menghilangkan stres. Nyatanya, musik memang memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang, termasuk anak-anak.

Penelitian tim psikiatri anak dari University of Vermont College of Medicine menemukan bahwa, latihan musik dapat membantu mengurangi kecemasan yang dialami anak-anak.

Berlatih atau bermain instrumen musik terbukti dapat membuat korteks (permukaan otak paling luar) menipis. Korteks yang tebal diindikasikan menjadi penyebab timbulnya kecemasan, depresi, sikap agresif dan perilaku tidak terkontrol pada anak.

Kegiatan pembelajaran jarak jauh dan tinggal di rumah dalam jangka waktu lama, juga memiliki potensi untuk menimbulkan stress bagi anak. Agar pembelajaran lebih variatif, joyful, dan memberikan makna bagi siswa, langkah yang dilakukan oleh Ibu Ulfa Ulfatun Nadhifah guru kelas IV SDN 1 Cepiring, Kendal, Jawa Tengah perlu dicoba..

Eksplorasi dapur emak untuk media belajar

Bu Ulfa dan siswa-siswanya membiasakan belajar dari rumah dengan mengekplorasi lingkungan yang ada di sekitar rumah siswa secara bertahap.  Kali ini eksplorasi mereka adalah di dapur.

Dengan mempedomani pendekatan belajar aktif dari PINTAR Tanoto Foundation MIKiR atau mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Mereka belajar tematik integratif muatan pembelajaran IPA tentang bunyi dan seni budaya dan prakarya tentang urutan nada.

Tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat menemukan perbedaan bunyi atau nada yang dihasilkan dari delapan gelas berbeda yang berisi air.

Kegiatan dimulai dengan memanfaatkan WA group paguyuban orang tua untuk berinteraksi dengan para siswanya. Interaksi ini berupa panduan kegiatan belajar, penugasan, dan video call dengan 8 orang maksimal bagi siswa yang mengalami kesulitan.

Sesuai dengan lembar kerja, siswa mengekplorasi perabotan sederhana yang ada di dapur rumah, yaitu berupa delapan gelas air minum dengan ukuran sama serta sendok logam. Gelas ini mereka tata secara berurutan dalam jangkauan siswa.

Di mulai dari percobaan bunyi

Langkah selanjutnya, mereka mengambil air putih dan menuangkannya ke dalam gelas dengan ketinggian yang berbeda. Kemudian mereka diminta memperhatikan dan membandingkan bunyi yang keluar dari percobaan mereka dengan  cara mengetukkan sendok  ke gelas berisi air dengan volume yang berbeda tersebut.

Pembelajaran ini sangat menarik sekaligus menantang. Siswa mengeklplorasi, mencoba, mengalami, menemukan, dan tentu saja menikmati pengalaman belajar menjadi satu ‘paket komplit’ dalam pembelajaran aktif experiencial learning.

Setelah susunan nada ditemukan, gelas itupun disusun berurutan mulai dari nada terndah sampai tertinggi membentuk tangga nada (do re mi fa sol la si do). Pengalaman belajar ini mereka tuliskan dalam sebuah laporan.

“Saya memberikan catatan tangga nadanya pada sebuah kertas disisi gelas supaya tidak terlewat. Saya dengarkan beberapa kali juga untuk memastikan urutannya,” kata Farhan Adam dalam chat.

Musik paling sederhana

Tahap selanjutnya, guru memberikan partitur nada dan lagu Ibu Kita Kartini untuk dipelajari. Lagu yang sangat populer dan mudah untuk dimainkan. Siswa berlatih memainkan musik gelas dan membuat video penampilan mereka.

Pembelajaran dilaksanakan secara kombinasi selama 3 hari. Pertama dengan menyampaikan tugas melalui WA grup kelas dan interaksi dalam video call bagi yang membutuhkan.

Kedua, siswa melakukan percobaan di rumah masing-masing, mengerjakan Lembar Kerja dan berkomunikasi dengan teman, orangtua, atau saudara,  dan Ketiga, merekam penampilan mereka bermain musik dan mengirimkan hasilnya di WA grup.

Pantau kemajuan belajar

“Kelihatan sekali anak saya keasyikan memainkan musik dengan media gelas ini. Dia sampai hafal cengkok dan tangga nadanya tanpa melihat partitur,” kata beberapa orangtua siswa yang setiap hari melihat anaknya bermain alat musik ini.

Selama tiga hari pemberian tantangan dan penugasan ini, Ibu Ulfa memantau kemajuan tugas pembelajaran yang diberikan. Kemajuan memainkan musik, ketepatan urutan nada, sampai beberapa anak yang mencoba berimprovisasi memainkan lagu yang lebih kompleks. Semua hal tersebut diberikan umpan balik. Tak lupa juga dibuat simpulan dari percobaan yang telah dilakukan tersebut.

Kegiatan terakhir dilakukan dengan meminta siswa dan orangtua memberikan umpan balik atau refleksi. Di grup WA beberapa orangtua menyampaikan terima kasih karena anaknya diberikan tambahan keterampilan sehingga bisa mengisi waktu luangnya. Mereka juga senang sekali memainkan alat musik sederhana ini bersama adik dan kakaknya.

Anak semakin termotivasi belajar

Idama Siregar Ibunda Farhan Adam mengatakan dalam sesi refleksi, Dengan pembelajaran seperti ini motivasi anak untuk belajar semakin tinggi.

“Dulu susah sekali kalau diminta belajar. Tetapi dengan pembelajaran yang mnyenangkan, proyek percobaan atau membuat sesuatu. Adam seperti ketagihan. Ingin mencoba ini dan itu. Secara tidak langsung dia jadi mau belajar. Sekarang, tiap bangun pagi dia lebih antusias, hari ini ada tugas apa dari bu guru?,” ungkapnya.

Menyajikan pembelajaran aktif menggunakan pendekatan MIKiR yang dikemas secara menarik dan kreatif menjadi faktor penting keberhasilan pembelajaran selain komunikasi dan kerjasama yang baik dengan orangtua.

FOKUS PROGRAM