Latih Keterampilan Sosial melalui Belajar Tatap Muka Terbatas

Latih Keterampilan Sosial melalui Belajar Tatap Muka Terbatas
Salah satu masalah dari pembelajaran jarak jauh adalah berkurangnya keterampilan sosial siswa. Misalnya siswa menjadi kurang berinteraksi dengan teman, tidak terlatih dalam berkomunikasi, sampai berkurangnya kemampuan menyesuaikan diri.
Keterampilan sosial sangat penting dilatihkan selain keterampilan akademis, untuk membantu siswa berkembang menjadi pribadi yang seimbang. Tapi kalau pembelajaran berpusat pada guru atau siswa hanya mengerjakan tugas di buku paket, sulit rasanya untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Siti Najaliyah, guru SDN 28 Indrapura, Sumatra Utara paham akan pentingnya mewujudkan pribadi siswa yang seimbang. Siti selalu berusaha mengajak siswa untuk aktif berinteraksi dalam diskusi pembelajaran, bahkan untuk siswanya di kelas I.
Menurut Siti, dengan mengajak siswa aktif berdiskusi, mereka juga diajak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya.
Menerapkan PTM Terbatas dan Daring
Melatihkan keterampilan sosial, ditunjukkan Siti saat siswa belajar tentang benda hidup dan benda mati. Siswa kelas I diajak belajar langsung di dalam kelas. Sekolahnya sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sejak 19 April 2021.
Siswa yang berjumlah 25 anak dibagi ke dalam dua kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok tersebut belajar PTM terbatas seminggu tiga kali dengan durasi maksimal dua jam, yaitu jam 8-10 pagi. Sedangkan kelompok lainnya melakukan pembelajaran secara daring via WhatsApp (WA).
“Semua materi diberikan lewat aplikasi WA mengingat kondisi kebanyakan orangtua siswa yang hanya bisa menggunakan aplikasi itu saja,” tambah Siti.
Materi yang diberikan pada kelompok siswa yang belajar dari rumah sama dengan materi yang diberikan pada kelompok siswa yang melakukan PTM terbatas. Pembelajaran secara daring dilakukan setelah Siti selesai memberikan materi pada kelompok siswa yang mengikuti PTM terbatas, yaitu mulai dari jam 10.30-12.00.
Guru memberikan tugas lanjutan dari PTM terbatas atau kegiatan pembelajaran yang berkolaborasi atau memerlukan pendampingan dari orangtua. Misalnya, saat belajar tentang mengamati benda hidup dan tidak hidup, siswa didampingi orangtuanya mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar rumahnya. Lalu hasilnya didiskusikan saat PTM terbatas di sekolah.
Memastikan Protokol Kesehatan
Saat PTM terbatas, Siti selalu menghimbau siswanya untuk menaati protokol kesehatan yang sudah disiapkan sekolah. Guru wajib mengukur suhu badan siswa sebelum masuk kelas. Guru dan siswa juga harus mencuci tangan sebelum masuk kelas dan memakai masker selama pembelajaran di kelas.
Meski Siti mengajar siswa kelas I secara PTM terbatas, mereka tetap antusias mengikuti pembelajaran di sekolah. “Agar siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran saya menggunakan media yang nyata dan dapat ditemukan di lingkungan sekitar,” ungkap Siti.
Belajar Aktif PTM Terbatas
Awalnya siti mengajak siswa menemukan benda hidup dan benda mati yang ada di sekitar kelas. Contoh untuk benda hidup misalnya Siti menunjukkan tanaman bunga yang ada di dalam kelas dan semut. Sementara untuk contoh benda mati yaitu seperti kursi, buku, dan pulpen.
Lalu siswa diminta mengamati ciri-ciri dari benda hidup dan benda mati tersebut. Ada yang menyebut benda hidup memerlukan makan dan minum, bergerak aktif atau pasif, tumbuh berkembang, dan bernafas. Dari ciri-ciri ini, siswa bisa menunjukkan contoh benda hidup lainnya, seperti pohon, cicak, siswa, dan guru.
Sedangkan benda mati, siswa menyebut memiliki ciri-ciri tidak makan dan minum, tidak bernapas, diam, tidak bergerak dengan sendirinya, dan tidak tumbuh. Contoh benda mati lainnya yaitu batu, tanah, kain, kaca, dan sebagainya.
Berinteraksi di Kelompok Kecil
Setelah siswa bisa membedakan benda hidup dan benda mati, Siti membagi siswanya ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 orang. Setiap kelompok diberi satu lembar kertas yang berisi aneka ragam gambar benda hidup dan benda mati.
Dalam kerja kelompok inilah siswa dilatih keterampilan sosialnya. Siswa saling bekerja sama untuk mengelompokkan gambar yang mereka miliki ke dalam kelompok benda hidup atau mati. Mereka menggunting dan berdiskusi mengelompokkan gambar tersebut ke dalam kertas yang telah disediakan.
Setelah selesai, dua orang perwakilan tiap kelompok silih bergantian mempresentasikan hasil kerjanya, dan kelompok lain dapat mengkoreksi hasil kerja kelompok yang sedang presentasi.
Contohnya adalah tugas yang dipresentasikan oleh dua siswa Siti yang bernama Annisa Aufa Dzhini dan Annisa Salsabila. mereka menunjukan kertas yang sudah berisi kelompok gambar benda hidup dan benda mati di depan kelas.
“Kami sangat senang, hari ini kami belajar tentang benda hidup dan benda mati. Seperti ciri benda hidup itu bernafas, tambah besar, dan butuh makan minum seperti manusia. Sementara benda mati tidak bernafas dan tidak bisa bertumbuh besar,” jelas Annisa ketika menjelaskan hasil tugas kelompoknya.
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan Siti membuktikan bahwa pembelajaran aktif sudah dapat dilakukan sedini mungkin untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. “Kelas satu bisa, kelas satu kereeen,” tutup Siti mengajak siswanya meneriakkan yel-yel.

FOKUS PROGRAM