Kisah Ratih, Kartini Masa Kini Mengajar Siswa Desa di Tengah Karantina

Kisah Ratih, Kartini Masa Kini Mengajar Siswa Desa di Tengah Karantina

Ratih Hermayati dengan salah satu siswanya yang menunjukkan karya miniatur rumahnya yang dibuat saat belajar dari rumah. Walaupun mengajar di daerah pedesaan, Ia tetap berupaya memfasilitasi siswanya belajar bermakna dari rumah.

Ratih Hermayati dengan salah satu siswanya yang menunjukkan karya miniatur rumahnya yang dibuat saat belajar dari rumah. Walaupun mengajar di daerah pedesaan, Ia tetap berupaya memfasilitasi siswanya belajar bermakna dari rumah.

Batang Hari, Jambi – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April selalu memunculkan beragam kisah inspiratif tentang kisah perjuangan perempuan di setiap masa dan tantangannya masing-masing.

Salah satu kisah datang dari Ratih Hermiyati, guru yang bertugas di daerah pedesaan, menghadapi tantangan tersendiri mengajar di masa pandemi Covid-19.

Ia mengajar matematika di SMPN 10 Batang Hari yang terletak di perbatasan Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Batang Hari.

Untuk menuju sekolahnya, Ratih membutuhkan waktu empat jam perjalanan. Dua jam untuk perjalanan berangkat dan dua jam untuk perjalanan pulang.

Itu dilakukannya setiap hari sebelum belajar dari rumah karena pandemi Covid-19.

Setiap jam 5 pagi, ia sudah harus bersiap menunggu mobil travel di Simpang Rimbo Jambi menuju Muara Tembesi Batang Hari. Lalu ia berganti mobil tambang ke arah sekolahnya di jalan menuju Sarolangun.

Menurut perempuan berusia 45 tahun ini, apa yang dijalaninya adalah keikhlasan dan sebagai bentuk tanggung jawab dalam memberikan pendidikan untuk anak-anak di daerah.

PJJ lewat FB dan WA

Walaupun ada keterbatasan sarana alat komunikasi, pembelajaran harus terus berjalan. Ratih tetap berusaha menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan siswa. Ratih memanfaatkan group Facebook Batanghari Belajar di Rumah (BBDR). Ia memanfaatkan forum belajar bersama di FB Live BBDR yang diinisiai fasilitator pembelajaran Tanoto Foundation.

Setiap hari di BBDR, ada guru secara bergantian memandu pembelajaran live selama satu jam.
Setiap selesai pembelajaran, ada penugasan dari guru yang ditindaklanjuti melalui WhatsApp group. Tugas yang telah diselesaikan siswa dikirimkan dalam bentuk foto atau video.

“Meskipun sinyal agak susah, dan ada siswa yang tidak punya HP, tetapi mereka masih bisa diajak dalam pembelajaran jarak jauh. Yang tidak punya HP bisa menitipkan tugas yang dikerjakan kepada temannya untuk difoto dan dikirimkan via WA ke saya atau di posting di FB BBDR,” ujar Ratih.

Pembelajaran yang menantang

Pembelajaran jarak jauh harus menantang dan menarik bagi siswa. Ia memberi penugasan seminggu sekali yang mendorong kreativitas siswa. Misalnya dalam belajar skala, Ratih tidak membahas rumus dan soal-soal tentang skala atau perbandingan.

Ia meminta siswanya praktik menerapkan materi ini dengan membuat miniatur rumah atau bangunan dengan menggunakan skala.

Siswa diminta menyiapkan alat dan bahan yang tersedia di rumah. Mulai gunting, cutter, penggaris, pulpen, pensil, kardus atau kertas karton, lem, dan bahan lain yang diperlukan untuk mempercantik miniatur rumah.

Awalnya siswa ditugaskan membuat denah rumah yang diinginkan. Mereka juga membuat miniatur rumah sesuai dengan denah dibuat.

Siswa diarahkan untuk membuat skala 1: 100 agar lebih mudah membuat denahnya. Skala 1:100 artinya jarak 1 cm pada denah mewakili 100 cm jarak sebenarnya.

Dalam proses pengukuran, siswa bisa mengukur rumahnya sendiri dengan dibantu keluarganya di rumah. Mereka mengukur bagian dalam, bagian halaman, dan luas seluruh rumah.

“Dengan pembelajaran ini, siswa bisa mempraktikkan konsep kesebangunan rumah, perbandingan senilai, pengukuran, dan bangun ruang sisi datar,” ujar Ratih.

Miniatur rumah, posting di FB

Setelah mendapatkan ukuran rumah, siswa menerapkan konsep kesebangunan dengan menggambar denah dan miniatur rumah. Mereka menggunakan skala 1:100.

Berdasar gambar dan ukuran yang sudah dibuat, siswa membuat miniatur rumahnya. Setelah jadi mereka mempostingnya di grup Facebook BBDR atau mengirimkan ke WA guru.

Siswa merasa senang dengan pembelajaran yang langsung berpraktik ini.

”Ibu Ratih kalau memberikan pembelajaran online rinci dan jelas. Kami jadi terbantu untuk memahami tugas lanjutan di rumah. Seperti membuat miniatur rumah ini untuk praktik penerapan skala,” ujar Ocha Fitria, siswa kelas VII.

Upaya guru seperti Ratih, merupakan lanjutan perjuangan Kartini di masa kini untuk mencerdaskan anak bangsa. Ada banyak guru seperti Ratih masih perlu didukung dalam upayanya menyediakan pembelajaran berkualitas.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kisah Ratih, Kartini Masa Kini Mengajar Siswa Desa di Tengah Karantina”.

https://www.kompas.com/edu/read/2020/04/22/090948471/kisah-ratih-kartini-masa-kini-mengajar-siswa-desa-di-tengah-karantina

FOKUS PROGRAM