Catatanku Pada Akhir Sesi Pelatihan di Bumi Lancang Kuning

Catatanku Pada Akhir Sesi Pelatihan di Bumi Lancang Kuning

Antusiasme para peserta pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation bagi calon fasilitator daerah pembelajaran SMP dan MTs di Pekanbaru, Riau.

Antusiasme para peserta pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation bagi calon fasilitator daerah pembelajaran SMP dan MTs di Pekanbaru, Riau.


Oleh Prof. Dr. Ani Rusilowati – 
Fasilitator Nasional Program PINTAR

Pekanbaru, Riau – Saya berkesempatan memfasilitasi pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation bagi calon fasilitator daerah pembelajaran SMP dan MTs di Pekanbaru (4-6/9). Kumanfaatkan sisa waktuku di pelatihan Bumi Lancang Kuning ini dengan meminta tanggapan peserta terkait pelatihan yang baru saja usai. Ku awali pertanyaanku kepada Ibu Husnal Hayati, guru IPA SMPN 2 Dumai. Dia meyampaikan pelatihan ini berbeda dengan pelatihan yang biasa diikuti.

“Penyajian materi tidak hanya informatif. Peserta diajak menemukan konsep sendiri melalui curah pendapat, pemberian pertanyaan, dan mengerjakan lembar kerja atau LK,” katanya. Pendapat itu didukung oleh Ibu Nelvi, guru IPA MTsN 1 Siak. “Saya diajak menemukan sesuatu yang baru, bagaimana cara menyelenggarakan pelatihan yang mengaktifkan peserta,” tukasnya.

Hal senada disampaikan oleh ibu Tatik Haryanti, guru MTsN 1 Pekanbaru. “Saya terinspirasi dalam mengatur tempat duduk siswa. Tidak boleh asal mengubah formasi tetapi perlu memperhatikan MIA,” imbuhnya. Saya tanyakan apa itu MIA. “MIA singkatan dari  Mobilitas, Interaksi, dan Akses,” jawabnya.

MIA merupakan cara mudah mengingat faktor yang perlu diperhatikan ketika menata meja siswa dalam pembelajaran. “Yang lebih menarik lagi adalah cara membuat LK, begitu simpel,” ungkapnya. Komponen LK yang terdiri dari penugasan atau pertanyaan terbuka, produktif, dan imajinatif ternyata mudah dibuat.

Berbeda lagi pendapat Ibu Mardiati guru matematika SMPN 4 Sungai Apit Siak. “Saya tadinya takut untuk berpendapat, takut ditertawakan atau diremehkan. Kali ini saya berani.” Cara fasilitator menjelaskan dan menanggapi pendapat peserta tidak menggurui, tidak menyalahkan, sehingga membuat peserta terdorong untuk berpendapat.

Bapak Khosian Candra, guru muda yang penuh semangat dari SMPN 1 Mempura Siak mengatakan, “Refleksi setelah praktik mengajar membuat saya bisa mengevaluasi letak kelebihan dan kekurangan saya selama mengajar. Hal ini juga akan saya terapkan di kelas.” Rasa lelahku terbayar dengan tanggapan positif dari peserta pelatihan.

FOKUS PROGRAM