Cara Siswa SDN 025 Tenggarong Belajar Perkembangbiakan dari Tanaman Bawang di Masa Pandemi Covid-19

Cara Siswa SDN 025 Tenggarong Belajar Perkembangbiakan dari Tanaman Bawang di Masa Pandemi Covid-19

Selama dua minggu, Cicik Novita, S.Pd, guru kelas VI di SDN 025 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur membimbing siswa untuk menyayangi makhluk hidup.

Selama dua minggu, Cicik Novita, S.Pd, guru kelas VI di SDN 025 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur membimbing siswa untuk menyayangi makhluk hidup.

 

TENGGARONG – Selama dua minggu, Cicik Novita, S.Pd, guru kelas VI di SDN 025 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur membimbing siswa untuk menyayangi makhluk hidup. Salah satu dengan menanam tanaman bawang. Tujuan pembelajaran ini adalah memahami perkembangbiakan tumbuhan dengan vegetatif. Selain memahami materi IPA, siswa diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa Indonesia.

Dalam menerapkan pembelajaran, Cicik Novita menggunakan unsur pembelajaran aktif MIKiR, mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Praktik ini didapatkan dari pelatihan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari Tanoto Foundation Kalimantan Timur.

Awalnya, Cicik membagikan video dan bahan bacaan perkembangbiakan tumbuhan vegetatif melalui WhatsApp Group Paguyuban. Materi tersebut memuat manfaat dan bagaimana perkembangan vegetatif tumbuhan. Dalam video Cicik menjelaskan tentang vegetatif alami lebih merinci yang dilakukan dengan umbi, akar, dan geragih. Setelah itu, orang tua siswa mengambil lembar kerja (LK) di sekolah. Di dalam LK, siswa diminta untuk menanam bawah merah untuk belajar perkembangbiakan vegetatif.

Orang tua siswa mengumpulkan hasil pengamatan di minggu pertama dan tanaman beserta LK yang terisi di minggu kedua. Siswa menyiapkan dua buah polybag, tanah, pupuk kandang atau kompos, arang atau sekam, pasir, lima siung bawang merah, dan air. Setelah itu siswa menanam bawang merah di dua polybag. Polybag pertama, bawang merah ditanam dengan tanah, pupuk, dan pasir.

Sedangkan, siswa menanam bawang merah di polybag kedua dengan tanah pupuk sekam.Dalam LK, siswa diminta untuk menulis hasil pengamatan setiap minggunya. Siswa menulis hasil pengamatan perkembangan bawang merah di dua polybag di tabel selama dua minggu. Lalu, siswa menulis laporan perkembangan vegetatif yang dicoba.

Selama 2 minggu, siswa juga dipersilahkan untuk berdiskusi dengan Cicik. Koirin mengirim pesan WhatsApp bagaimana mengisi tabel pengamatan. Cicik menyarankan untuk mengukur pertumbuhan tinggi tanaman bawang merah di dua polybag. Setelah itu, siswa menjawab pertanyaan di dalam LK. Pertanyaan tersebut adalah manakah yang lebih cepat pertumbuhannya antara bawang merah yang ditanam di polybag dengan komposisi antara tanah-pupuk-pasir atau tanah-pupuk-sekam.

Saptriasa Cinta Kirana Juniar menjawab bawang merah lebih cepat tumbuh di polybag yang berisi campuran tanah-pupuk-pasir. Selain menjawab pertanyaan, Cinta juga menulis langkah-langkah persiapan media tanam dan menanam. Cinta juga menulis kesimpulan pengamatan.

Cinta mencari jawaban dibantu oleh ayahnya yang seorang petani. Pertumbuhan bawang merah di media tanah-pupuk-pasir lebih cepat karena kelembapan terjaga. Dengan membuat laporan, selain Cinta dan siswa kelas IV memahami materi IPA, Cinta menguasai keterampilan Bahasa Indonesia dengan membuat laporan.

Dalam kesimpulan Cinta, Cinta menyimpulkan tanaman bawang adalah perkembangbiakan vegetatif alami dengan umbi lapis. Bawang merah mempunyai daging yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Cinta juga membuat laporan dalam format video agar teman yang lain yang kesulitan menanam bawang merah. Setelah 2 minggu, siswa memilih menaruh tanamannya di sekolah daripada di rumah, agar nantinya dapat bersama-sama merawat tanaman bawang merah.

 

Artikel dapat dibaca di kaltim.tribunnews.com

 

FOKUS PROGRAM