Cara Kreatif Kepala Memimpin Pembelajaran di Masa Pandemi

Cara Kreatif Kepala Memimpin Pembelajaran di Masa Pandemi

Siswa SD Muhammadiyah Sungai Apit, Siak, Riau sedang mengikuti pembelajaran daring dari rumah yang difasilitasi guru. Dukungan kepala sekolah membuat para guru dan siswa bisa belajar dari rumah dengan baik.

Siswa SD Muhammadiyah Sungai Apit, Siak, Riau sedang mengikuti pembelajaran daring dari rumah yang difasilitasi guru. Dukungan kepala sekolah membuat para guru dan siswa bisa belajar dari rumah dengan baik.

Masa pandemi ini merupakan tantangan bagi kepala sekolah dalam mendukung guru untuk bisa memfasilitasi siswa belajar dari rumah. Pengalaman dua kepala sekolah di Riau dan Kalimantan Timur yang membantu guru, orangtua, dan siswa dalam pelaksanaan BDR yang berkualitas bisa menjadi contoh. Apa inisiatif mereka?

 

Latih Guru dan Beri Kuota Internet

Ketika sekolah mulai diliburkan karena Covid-19, Ridwan Alatas, Kepala SD Muhammadiyah Sungai Apit, Siak, Riau langsung berinisitiaf untuk memberikan pelatihan pembelajaran daring untuk semua guru.

Para guru difasilitasi untuk bisa memanfaatkan beberapa aplikasi pembelajaran seperti google classroom dan aplikasi pertemuan Jitsi untuk mendampingi siswanya BDR.

Setiap bulan sekolah juga memberikan bantuan kuota 33 GB kepada guru untuk fasilitas mengajar secara daring. Para orangtua siswa juga menjadi sasaran untuk dilatih para guru wali kelas.

“Kalau guru hebat tapi orangtua siswa tidak mendukung susah juga. Maka orangtua juga perlu kita dekati dan dilatih dalam mendukung anaknya belajar dari rumah, terutama belajar menggunakan aplikasi pembelajaran,” kata Ridwan.

Ridwan juga mengajak guru-gurunya untuk memetakan siswa yang bisa belajar daring atau luring. Rata-rata setiap kelas, 80% siswa yang bisa ikut pembelajaran daring.

“Untuk siswa yang hanya bisa belajar secara luring, tugasnya diantar ke rumah siswa. Setelah selesai, orangtua yang mengantarkan. Tujuan pembelajaran yang belajar daring atau luring juga sama. Yang membedakan untuk tugas luring lembar kerja yang dibuat guru lebih rinci untuk memandu siswa bisa belajar mandiri,” kata Ridwan yang juga fasilitator manajemen berbasis sekolah Tanoto Foundation.

 

SDN 001 Bontang Utara, Kalimantan Timur, menyediakan penugasan untuk siswa yang belajar luring. Mereka melibatkan tokoh masyarakat untuk ikut membantu agar siswa yang tidak bisa mengakses internet juga bisa belajar dari rumah.

Memetakan Kebutuhan Pembelajaran

Yani Astutik Kepala SDN 001 Bontang Utara, Kalimantan Timur, mengawali kegiatan BDR dengan berkomunikasi kepada semua guru dan memetakan kemampuan guru, siswa, dan orangtua dalam pelaksanaan BDR.

Setelah memetakan situasi dan kondisi yang dihadapi, kepala sekolah, guru, dan orangtua menyepakati untuk kelas 1 sampai kelas III menggunakan kombinasi pembelajaran daring dan luring. Sedangkan untuk kelas IV sampai kelas VI pembelajarannya menggunakan daring.

“Pembelajaran daring dilakukan bagi siswa yang orang tuanya memiliki telepon genggam pintar dan paket data yang memadai. Pembelajarannya dapat berlangsung melalui WhatsApp Group (WAG), Google Classroom, dan Zoom agar guru dan siswa bisa berinteraksi langsung.

 

Libatkan Masyarakat Bantu Siswa Belajar Luring

Tantangan Yani Astutik di masa pandemi ini adalah bagaimana pembelajaran juga diperoleh siswa dari keluarga kurang mampu. “Kami menerapkan pembelajaran luring berbasis kluster dengan bekerja sama dengan tokoh masyarakat, seperti ketua RT, ibu-ibu dasawisma untuk membantu membagikan materi pembelajaran dan penugasan,” kata Yani.

Guru memetakan siswanya yang tidak memiliki fasilitas daring tersebut per kelas. Rata-rata ada 10 siswa per jenjang kelas yang tidak mempunyai fasilitas daring. Sehingga ada enam klaster yang diajarkan secara luring.

Setiap klasternya dipilih para siswa yang tinggal berdekatan. Kemudian ada tokoh masyarakat yang dilibatkan untuk menjemput materi dan penugasan serta memberikan kepada warganya yang merupakan siswa SDN 001 Bontang Utara.

Para tokoh masyarakat yang ditunjuk mengikuti protokoler pencegahan covid-19 pemerintah, menggunakan sarung tangan dan masker ketika menyerahkan materi pembelajaran dan tugas.

Untuk penyerahan tugas yang sudah dikerjakan siswa, masing-masing orang tua memberikan secara silih berganti ke sekolah karena tetap ada guru yang berjaga di sekolah. Pengumpulan tugas ini dilakukan silih berganti untuk menghindari kerumunan di sekolah, sekaligus disediakan pencucian tangan di lingkungan sekolah.

“Ini merupakan kerja sama tim semua pihak, terutama guru-guru yang bekerja keras untuk tetap menjalankan pembelajaran bagi siswa yang tidak bisa mengakses internet,” kata Yani.

Kepemimpinan pembelajaran yang ditampilkan Yani Astutik dan Ridwan Alatas memberikan harapan kepada guru, orangtua, dan siswa untuk tetap bisa eksis belajar di tengah wabah pandemi.

FOKUS PROGRAM