Cara Guru Sekolah Transmigrasi Mengelola Pembelajaran Daring dan Luring yang Mengaktifkan Siswa

Cara Guru Sekolah Transmigrasi Mengelola Pembelajaran Daring dan Luring yang Mengaktifkan Siswa

Walaupun sekolahnya berada di daerah perdesaan transmigrasi, Kiswanto (paling atas) tetap memberikan pembelajaran daring dan luring kepada para siswanya.

Walaupun sekolahnya berada di daerah perdesaan transmigrasi, Kiswanto (paling atas) tetap memberikan pembelajaran daring dan luring kepada para siswanya.

 

Jambi – Semua siswa berhak untuk mendapatkan pembelajaran dari guru, walaupun di masa pandemi. Prinsip itulah yang dipegang oleh Kiswanto guru kelas VI SDN 169/V Cinta Damai. Ia bercerita, lokasi sekolahnya berada di lokasi pemukiman transmigrasi. Jarak dari sekolah ke Ibu Kota Kabupaten sekitar 150 kilometer yang sebagai besar jalan masih berupa tanah.

“Rantai motor lepas, ban bocor itu adalah hal biasa. Tidak menyurutkan saya untuk terus semangat melakukan kegiatan pembelajaran untuk anak-anak,” kata Kiswanto.

Setelah diumumkan siswa harus belajar dari rumah untuk mencegah penularan Covid-19, Kiswanto memulai putar otak untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ). Walaupun sekolah dan tempat tinggalnya berada dekat hutan dan perkebunan, Kiswanto dan siswanya sudah bisa mengakses internet.

Meyakinkan Orangtua dan Belajar Aplikasi Secara Autodidak
“Yang saya prioritaskan pertama adalah berkomunikasi dan meyakinkan orang tua siswa untuk mendukung kebutuhan belajar dari rumah bagi anak-anaknya,” urai Kiswanto.

Kiswanto mulai mencari dan mempelajari aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran daring. Dia belajar autodidak menggunakan aplikasi Google Classroom, Goggle Form, Zoom, sampai Quizzes untuk penilaian hasil belajar siswa. Berkat kemauannya mempelajari hal-hal baru, kini Kiswanto sudah mampu mengajak siswanya memanfaatkan beragam aplikasi. Seperti aplikasi Zodo yang digunakan siswa menulis pada PDF lembar kerja, Learningapps untuk membuat permainan dalam pembelajaran, dan masih banyak lagi.

Kiswanto juga perlu melatih para orangtua dan siswa untuk menggunakan aplikasi tersebut. Melalui WA paguyuban kelas, orangtua dikirimi panduan cara mengunduh sampai video tutorial penggunaan aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran. Tak jarang Kiswanto ditelepon orangtua yang meminta pendampingan cara menggunakan aplikasi pembelajaran. “Yang berat hanya di awal persiapan. Setelah orangtua memahami cara menggunakan aplikasi, mereka bisa dampingi anaknya belajar menggunakan aplikasi tersebut,” kata Kiswanto.

 

Hadirkan Narasumber melalui Zoom
Untuk membangun kesadaran siswa tentang virus Covid-19, Kiswanto menjadikannya sebagai materi pembelajaran melalui zoom. Dia mengajak siswanya berinteraksi langsung dengan narasumber dokter yang diundang melalui pertemuan Zoom. “Dari pembelajaran ini siswa saya ajak mengenal tentang virus Corona atau Covid-19, memahami cara pencegahan dengan membuat poster, dan mampu menerapkan pola hidup sehat,” kata Kiswanto.

Dokter Adif Kurniawan yang bertugas di PT Asian Agri diundang untuk menjawab keingintahuan para siswa tentang virus Covid-19. “Dokter, berapa lama virus Corona bertahan di benda mati?” tanya seorang siswa.

“Virus corona dapat bertahan mulai beberapa jam sampai beberapa hari. Kalau di kayu, kaca, atau kertas virus bisa bertahan sampai 4 hari. Untuk itu penting bagi kita untuk sering cuci tangan dengan sabun,” jelas dokter Adif. Usai bertanya jawab dengan dokter, Kiswanto mengingatkan siswa untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan virus.

Poster hasil karya siswa cara untuk mencegah penularan Virus Corona.

 

Pembelajaran Luring yang Bermakna

Menurut Kiswanto 5 dari 20 siswanya tidak bisa mengikuti pembelajaran daring karena sejumlah alasan, yakni tidak memiliki gawai pintar dan tidak mampu membeli kuota internet. Untuk itu 5 siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring, ia fasilitasi dengan pembelajaran secara luring.

Kiswanto membagikan sejumlah cara bagaimana ia melakukan pembelajaran luring yang dapat membuat siswa aktif berkegiatan, ketimbang hanya merangkum pelajaran. Strategi pembelajaran luring, tak hanya berikan soal-soal Sebagai langkah awal, Kiswanto melakukan sejumlah tahapan untuk memberikan media pembelajaran untuk murid tanpa akses internet. Langkah tersebut ialah:

1. Menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dengan ketentuan: LKPD dibuat untuk tujuan pembelajaran yang sama dengan pembelajaran daring. Penugasan disesuaikan dengan lingkungan belajar di rumah siswa. Tugas atau pertanyaan harus jelas dan mampu mendorong dan membimbing siswa menemukan konsep sendiri.

2. Mengirim LKPD ke Kepala Sekolah melalui WA, dengan alasan rumah Kiswanto tidak berada di desa yang sama dengan siswa dan sekolah. Kepala Sekolah tinggal di rumah dinas yang berada di depan sekolah.

3. Kepala Sekolah membantu mencetak (print) lembar LKPD di sekolah.

4. Siswa mengambil LKPD dan mengumpulkan tugasnya ke sekolah atau rumah Kepala Sekolah. Langkah tersebut merupakan cara teknis bagaimana siswa mendapatkan LKPD sebagai media pembelajaran luring.

Selanjutnya, Kiswanto menjelaskan lebih detail isi LKPD yang menurutnya sangat penting untuk diperhatikan oleh guru. Menurut Kiswanto, LKPD bukan hanya lembaran yang berisi soal dan kolom jawaban, lebih dari itu, LKPD harus menjadi media komunikasi luring antara murid, orangtua, dan guru.

“Sebelum masuk materi, saya pesankan agar anak tetap semangat, tetap aktif, dan bisa belajar bersama orangtua,” tuturnya.

5. Membuat soal yang sesuai dengan dunia anak murid. “Pahami dunia anak adalah dunia bermain, materi yang diberikan disesuaikan dengan dunia bermain anak,” Kiswanto menegaskan.

Tujuannya, lanjut Kiswanto, agar anak semangat dan aktif dalam belajar, mengetahui perkembangan kondisi di lingkungan sekitar, serta menjalin komunikasi yang aktif dengan keluarga. Kiswanto memberikan sejumlah contoh materi. Semisal, ia akan mengajarkan cara membuat diagram batang, maka lebih dulu anak diminta untuk wawancara ibu atau ayah di rumah terkait uang belanja dari tanggal 4-7 Mei 2020.

Lalu, anak dibimbing untuk mengisi hasil wawancara dalam tabel yang telah tersedia, kemudian kembali dibimbing untuk membuat diagram batang. Agar proses ini berhasil, Kiswanto menyarankan guru untuk menggunakan bahasa anak sehari-hari, dengan penjelasan detail, sehingga anak bisa mengikutinya.

Selain menyuguhkan tema akademis, Kiswanto juga membuat produk pembelajaran sesuai dengan situasi saat ini, seperti membuat poster tentang pencegahan covid-19.

6. Lembar refleksi sebagai umpan balik Di akhir LKPD, Kiswanto memberikan siswa kolom untuk menuliskan refleksi setelah belajar dengan pertanyaan: Apa saja yang sudah kamu pahami? Apa saja yang belum kamu pahami? Bagaimana perasaanmu ketika belajar tentang diagram batang ini?

Refleksi tersebut menurutnya sangat penting untuk mengetahui perbaikan apa yang diperlukan untuk masing-masing siswa, sehingga siswa tak hanya selesai kerjakan soal, namun diberi kesempatan untuk belajar lebih baik lagi.

7. Tetap berkomunikasi. Untuk siswa yang orangtuanya tak memiliki gawai pintar namun memiliki telepon rumah, Kiswanto akan melakukan komunikasi dengan orangtua dengan sambungan telepon biasa.

 

Artikel ini juga dipublikasikan di Kompas.com dan JPNN.com:

FOKUS PROGRAM