Buat Teras Rumah Jadi Laboratorium

Buat Teras Rumah Jadi Laboratorium

Salah seorang siswa sedang praktik mencari komponen penyusun zat tunggal dan campuran dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang siswa sedang praktik mencari komponen penyusun zat tunggal dan campuran dalam kehidupan sehari-hari.

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Untuk mengajak siswanya praktik komponen penyusun zat tunggal dan campuran dalam kehidupan sehari-hari, Nanang Nuryanto, guru kelas V, SDN 021 Marangkayu, Kutai Kartanegara mengajak siswanya mengubah teras rumah menjadi laboratorium mini. Langkah pembelajarannya, pertama-tama Nanang mengirim video terkait zat tunggal dan campuran di WhatsApp group (WAG) paguyuban kelas. Lalu, dia mengajak siswa untuk berdiskusi berdasar video yang ditonton. Nanang memberikan pertanyaan di WA untuk pemancing diskusi. Apa yang kalian ketahui tentang zat tunggal dan zat campuran? Berikut rangkuman dari hasil diskusi siswa dan penguatan dari guru.

Zat tunggal merupakan zat yang komponen penyusunnya hanya satu zat yang berupa unsur dan senyawa. Contohnya unsur logam yaitu perak, besi, emas, dan platina, dan unsur senyawa seperti garam, air, dan gula. Sedangkan zat campuran adalah zat yang komponen penyusunnya terdiri dari dua atau lebih zat atau materi. Zat campuran terdiri atas dua sifat yaitu homogen dan heterogen. Zat homogen ini ditemukan pada sirup, oralit, dan udara dimana dua atau lebih materi atau zat dapat menyatu secara merata.

Zat campuran heterogen ini dapat ditemukan di kopi tubruk, air dengan tanah, dan air dengan minyak, yaitu dua zat atau materi yang berbeda yang tidak dapat menyatu secara sempurna. Setelah berdiskusi, Nanang menugaskan siswanya untuk melakukan percobaan zat campuran homogen dan heterogen.

Pertanyaan yang harus ditemukan siswa jawabannya dalam percobaan ini, yaitu:
1. Apa yang terjadi jika minyak, air, dan sabun cuci piring sunlight dicampur menjadi satu? Amati yang terjadi dan tentukan kedudukan zatnya serta tulis alasannya.
2. Siapkan tiga wadah yang berisi: wadah pertama air, wadah kedua air dan minyak, dan wadah ketiga minyak. Di setiap wadah, masukan satu bongkah es batu kecil. Amati posisi es batu di tiap wadah dan tuliskan apa yang terjadi.
3. Buatlah laporan percobaan yang memuat waktu dan proses praktik pembelajaran ini! Apa kesimpulannya?

Siswa diberi waktu sehari untuk mengumpulkan tugas ini. Nanang terbuka untuk pertanyaaan dari orangtua dan siswa untuk menyelesaikan tugas ini melalui WAG.

Mereka dipersilakan mencari tempat yang nyaman untuk melakukan praktik. Mereka meminta tolong orangtua atau keluarganya di rumah untuk mendokumentasikan. Siswa menyiapkan tiga buah gelas, air, minyak goreng, sabun cair cuci piring, dan es batu. Banyak siswa yang memilih teras rumahnya untuk mempraktikkan percobaan pembelajaran IPA ini.

Aji mempraktikkan penugasan nomor 1. Dia menyampurkan semua bahan menjadi satu, kemudian setelah ditunggu beberapa waktu, minyak terletak di atas, air di tengah, dan sunlight di bawah. Aji menyimpulkan, jika semua bahan dicampur menjadi satu, maka hasilnya menyatu karena sunlight merupakan emulgator massa yang membuat air dan minyak bisa menyatu. Emulgator merupakan zat yang berfungsi untuk menstabilkan campuran dua cairan yang tidak bisa digabung.

Untuk penugasan nomor 2, Gabriella menggambarkan posisi es batu di wadah air (pertama), wadah air dan minyak (kedua), dan wadah minyak (ketiga) setelah memasukkan es batu di masing-masing wadah.

Pada wadah pertama, air yang dicampurkan dengan es batu kemudian akan mencair. Apa yang mencair? Yang mencair adalah es batu. Es batu yang dicampur dengan air biasa maka akan lebih mudah mencair mengapa? Karena masa air biasa lebih cepat dari minyak. Pada wadah kedua, es batu dicampur dengan minyak dan air, ketika dicampur maka air akan berada di bawah es batu sedangkan minyak akan berada di atasnya es batu karena jenis air lebih berat daripada jenis minyak, juga es batunya akan lama mencair. Pada wadah ketiga, ¼ minyak dicampur dengan es batu. Es batu yang dicampur dengan minyak akan lebih lama mencair karena masa minyak lebih lama dari pada masa air. Dalam catatannya, Gabriella menyimpulkan jenis, massa, dan berat suatu cairan dapat memengaruhi letak atau tempat benda. Juga benda padat akan lebih mudah mencair pada zat-zat yang mudah mengalir.

Untuk penugasan terakhir, para siswa membuat laporan kedua praktik tersebut. “Ini proses yang menyenangkan. Jika saya harus mengulangi lagi saya senang melihat masing-masing zat saling berinteraksi dan bereaksi satu sama lain,” kata Gabriella menuliskan kesannya mengikuti pembelajaran ini. Para siswa mengumpulkan laporan keesokan harinya melalui WAG.

Untuk siswa yang tidak memiliki gawai atau tidak bisa mengakses internet, mereka juga mendapatkan tugas yang sama. Nanang membuatkan modul pembelajaran untuk mereka agar juga bisa belajar di rumahnya masing-masing. Dari 22 siswa kelas V, hanya 12 orangtua siswa yang menyanggupi belajar daring. Sementara 10 orangtua siswa lainnya kesulitan karena terkendala gawai dan akses internet. “Jadi kami pakai dua pola belajar daring dan luring. Yang luring saya datangi rumah mereka satu persatu,” tutur guru usia 36 tahun ini. Nanang kemudian membuat modul belajar bagi siswa daring. Di dalam modul itu siswa diminta langsung berpraktik agar lebih interaktif.

Selain itu, Nanang bersama para guru dan fasilitator Tanoto Foundation juga aktif memfasilitasi belajar daring melalui program Kukar Cerdas. Program ini kerja sama Pemda Kukar, Rumah Belajar, dan Tanoto Foundation dengan membuat belajar daring melalui YouTube. Program ini diikuti seluruh siswa di Kabupaten Kutai Kertanegara.

FOKUS PROGRAM