Sukses Belajar di Semester Baru dengan Kesepakatan Kelas

Sukses Belajar di Semester Baru dengan Kesepakatan Kelas

Program Guling atau guru keliling dilakukan oleh Krista Adayu, guru SDN Gumilir 06, Cilacap, Jawa Tengah berdasar hasil kesepakatan kelas bersama orangtua siswa. Ada 3-4 siswa yang rumahnya berdekatan membentuk kelompok belajar kecil yang rutin didampingi guru. Program ini untuk memastikan semua siswa bisa mendapatkan akses pembelajaran di masa pandemi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Program Guling atau guru keliling dilakukan oleh Krista Adayu, guru SDN Gumilir 06, Cilacap, Jawa Tengah berdasar hasil kesepakatan kelas bersama orangtua siswa. Ada 3-4 siswa yang rumahnya berdekatan membentuk kelompok belajar kecil yang rutin didampingi guru. Program ini untuk memastikan semua siswa bisa mendapatkan akses pembelajaran di masa pandemi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

 

Pandemi telah menyebabkan terjadinya krisis pendidikan. Salah satu krisis pendidikan di era pandemi adalah menurunnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Banyak guru mengeluhkan siswanya tidak mengikuti pembelajaran dengan baik. Tugas-tugas yang diberikan melalui pembelajaran jarak jauh banyak yang tidak dikerjakan siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Krista Adayu, Guru SDN 06 Gumilir, Cilacap, Jawa Tengah, mengajak orangtua dan siswa melakukan kesepakatan kelas sebelum mengawali pembelajaran selama satu semester ke depan.

Pembuatan kesepakatan diawali dengan mengajak siswa dan orangtua atau wali murid untuk menyampaikan usulan dan gagasannya agar pembelajaran jarak jauh (PJJ) bisa berjalan dengan baik.

“Saya mengundang siswa dan orangtua dalam WhatsApp Group (WAG) kelas untuk membahas bentuk-bentuk pembelajaran yang mereka inginkan dan bisa dijangkau pada semester 2 tahun ajaran 2020/2021,” kata Krista menceritakan inisiatif yang dia lakukan.

 

Ada tiga topik utama yang dibahas melalui WA, yaitu:

  1. Bentuk pembelajaran dan penugasan

“Untuk daring saya setuju menggunakan WAG dengan semua fiturnya yang juga dikombinasikan dengan aplikasi lain seperti zoom dan youtube streaming. Jadi anak-anak tetap bisa fokus belajar. Sedangkan untuk luring saya setuju menggunakan kegiatan guru berkeliling (guling),” kata wali dari seorang siswa bernama Vidzi.

Usulan di atas juga disambut baik oleh orangtua siswa lainnya untuk tetap melakukan pembelajaran bauran (blended). Pembelajaran daring dikombinasikan dengan kegiatan guru keliling (guling) ke rumah siswa dalam kelompok-kelompok kecil.

Diskusi topik ini bisa menghasilkan beberapa kesepakatan:

1) PJJ secara luring dilakukan dengan cara guling. Satu hari satu kelompok atau dua kelompok yang dikunjungi.

2) Memanfaatkan pembelajaran melalui WAG setiap hari,

3) Pembelajaran melalui zoom dan youtube streaming dilakukan seminggu sekali,

4) Pengerjaan tugas dilakukan setelah luring dan daring selesai.

5) Tugas bisa dikumpulkan berupa foto atau video, dan

6) Pembahasan dilakukan bersama lewat voice note/chat/video conference.

 

  1. Penumbuhan karakter dan literasi dalam pembelajaran

Ada dua model penumbuhan karakter dan literasi yang ditawarkan Krista. Pilihan kegiatannya, (1) dilakukan terintegrasi dalam mata pelajaran, atau (2) dilaksanakan secara terpisah atau berdiri sendiri.

“Pada pilihan pertama, kegiatan dilakukan sesuai tema yang ada dalam mata pelajaran. Di dalam pembelajaran tersebut aktivitas yang dilakukan mengedepankan penumbuhkembangan karakter dan literasi siswa,” jelas Krista lagi.

Sedangkan untuk pilihan kedua, setiap siswa memiliki target aktivitas keseharian seperti membantu orangtua mengerjakan tugas rumah, berinfaq, melakukan ibadah, dan kegiatan positif lainnya..

Untuk literasi dilakukan setiap hari atau siswa menyelesaikan membaca satu buku bacaan dalam rentang waktu satu minggu. Aktivitas tersebut tercatat dalam jurnal karakter dan literasi.

 

  1. Pengembangan life skill siswa

Pembahasan ini sebenarnya adalah ranah guru. Namun agar menambah motivasi dan komitmen orangtua dalam mendukung penerapannya dalam pembelajaran, hal ini perlu juga disepakati.

Pengembangan life skill atau kecakapan hidup dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan.  Kegiatannya berupa projek di rumah. Misalnya siswa membuat ramuan obat-obatan, membuat masker, membuat hand sanitizer, memasak bersama orangtua, atau membuat kerajinan tangan.

Setelah semua gagasan dibahas dan disepakati, hasilnya ditulis dan dibagikan kembali lewat WAG. Permasalahan yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran dapat diselesaikan dengan merujuk pada kesepakatan yang sudah dibuat.

“Hasil dari kesepakatan ini saya wujudkan dalam jadwal pembelajaran mingguan dan dibagikan kepada semua siswa dan orangtua,” kata Krista

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

FOKUS PROGRAM