Bermodal Garam, Mahasiswa IAIN Samarinda Membuat Es Krim Tanpa Kulkas

Bermodal Garam, Mahasiswa IAIN Samarinda Membuat Es Krim Tanpa Kulkas

Pandemi covid-19 tidak mempengaruhi Maulida Ulfa Hidayah, dosen pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Samarinda memfasilitasi perkuliahan mahasiswa calon guru mengenai asam basa pada pembuatan es krim.

Pandemi covid-19 tidak mempengaruhi Maulida Ulfa Hidayah, dosen pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Samarinda memfasilitasi perkuliahan mahasiswa calon guru mengenai asam basa pada pembuatan es krim.

Samarinda – Pandemi covid-19 tidak mempengaruhi Maulida, dosen pendidikan IPA IAIN Samarinda memfasilitasi perkuliahan mahasiswa calon guru mengenai asam basa pada pembuatan es krim. Ketika asam basa dicampur akan membentuk reaksi penggaraman. Reaksi penggaraman ini menjelaskan pentingnya garam dalam pembuatan es krim tanpa menggunakan kulkas.

Dalam perkuliahan jarak jauh ini, Maulida memanfaatkan aplikasi WhatsApp Group dan Google Meeting. Dia menerapkan unsur pembelajaran aktif MIKiR, mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi seperti yang dilatihkan Tanoto Foundation agar mahasiswa tetap belajar aktif.

Setelah mendapat penjelasan dan lembar kerja mahasiswa (LKM) tentang prinsip kerja garam dalam pembuatan es krim, mahasiswa menyiapkan alat dan bahan yaitu toples plastik, wadah, sendok, es batu, garam, susu cair, dan oreo sebagai bahan tambahan.

Putri Neni Rosanti, salah satu mahasiswa melanjutkan percobaan dengan menuangkan susu cair ke dalam toples. Lalu menuangkan susu cair tersebut dan garam ke dalam wadah berisi es batu. Putri mengaduk selama setengah jam sampai adonan es krim bertekstur padat dan lembut.

Adonan es krim tersebut diberi cokelat dan toping kue. Putri bersama semua mahasiswa memperagakan pembuatan es krim di depan telepon selularnya melalui Google Meeting, yang didampingi oleh dosennya, Maulida.

Setelah selesai, mahasiswa ditugas menjawab empat pertanyaan berdasar hasil percobaan yang mereka lakukan:

1. Bagaimana hubungan antara es batu yang dicampur garam dengan toples berisi susu yang dimasukkan ke dalamnya kemudian digerakkan berputar?

2. Bagaimana bentuk es krim hasil praktikum setelah semua proses pembuatan di lakukan?

3. Apa saja faktor yang mempengaruhi pembuatan es krim menggunakan garam tanpa kulkas?

4. Mengapa es krim dapat terbentuk dengan memanfaatkan garam dalam proses pembuatannya?

 

Berpraktik bersama di rumah

Putri menjelaskan bahwa es batu yang dicampur dengan toples berisi susu yang dimasukkan ke dalamnya kemudian digerakkan berputar. Proses tersebut mengakibatkan adonan es krim (toples berisi susu) membeku dengan titik beku beberapa derajat di bawah titik beku air murni. Ketika es dicampur garam, es mencair dan terlarut membentuk air garam, serta menurunkan temperaturnya. Proses ini memerlukan panas dari luar.

Campuran itu mendapat panas dari adonan es krim maka hasilnya adalah es krim padat. Proses menggerakkan toples dengan berputar selama proses bertujuan untuk memperkecil ukuran Kristal es yang terbentuk agar es krim semakin lambat dan untuk menghasilkan busa yang seragam. Hasil akhirnya adalah es krim yang terbentuk bertekstur padat dan lembut. Faktor yang mempengaruhi adalah reaksi antara garam dan es batu.

Lalu mengapa es krim dapat dibuat dengan bantuan garam? Garam berfungsi menjaga suhu es agar tetap rendah dan tidak mudah cair. Sifat molekul garam yang ini dikarenakan unsur natrium dan klorida pembentuk garam memiliki sifat berlawanan. Gaya Tarik yang saling menolak antar molekul garam membuat garam berfungsi sebagai penahan.

“Jadi, partikel garam merupakan pemicu leburnya es. Di sisi lain, seperti yang kita ketahui, peleburan es memerlukan energi atau menyerap kalor. Nah, karena kalor tidak disuplai dari luar, maka es menyerap kalor dari dirinya sendiri, sehingga suhu es turun lebih jauh. Es yang suhunya telah menjadi sangat dingin ini kemudian akan menyerap banyak kalor dari adonan es krim, sehingga adonan es krim dapat membeku,” simpul Putri.

Setelah semua mahasiswa melakukan percobaan di rumahnya masing-masing, mereka mengirimkan laporan hasil percobaan mereka melalui WhatsApp Group.

Para mahasiswa mengaku puas dengan pembelajaran asam dan basa menggunakan WhatsApp Group dan Google Meeting, karena tidak hanya ada interaksi dosen dengan mahasiswa tetapi juga sesama mahasiswa. Di akhir pembelajaran, mahasiswa memberikan nama pada masing-masing es krim buatannya, Rizki dengan nama es krim hilo goyang, Humairah dengan nama es krim three love, Marina dengan nama es krim putar milo.

FOKUS PROGRAM