Belajar Sejarah Kreatif dengan Unsur MIKiR

Belajar Sejarah Kreatif dengan Unsur MIKiR

Guru SMP Negeri 2 Air Joman, Watini, SPd, MM sedang membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pelajaran sejarah dengan menerapkan unsur MIKiR untuk selanjutnya dikerjakan secara kelompok melalui group WA kelas.

Guru SMP Negeri 2 Air Joman, Watini, SPd, MM sedang membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pelajaran sejarah dengan menerapkan unsur MIKiR untuk selanjutnya dikerjakan secara kelompok melalui group WA kelas.

Guru dituntut untuk berkreasi dalam pembelajaran sejarah sehingga tercipta pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk itu, Guru SMP Negeri 2 Air Joman, Asahan,
Sumut, melakukan cara belajar pelajaran Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan
unsur MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi).

Pembelajaran kreatif dan aktif tersebut dilakukan salah seorang guru SMP Negeri 2 Air Joman, Watini, SPd, MM yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Pembelajaran Tanoto Foundation, untuk memberikan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya sejarah yang sering dianggap sebagai pelajaran hafalan dan membosankan.

Menurutnya, pendekatan pembelajaran sejarah harus dapat merubah pembelajaran yang monoton dan membosankan menjadi pembelajaran yang bermakna, dialogis dan menyenangkan.

“Cara pembelajaran aktif dengan unsur MIKiR ini setelah saya mengikuti pelatihan program PINTAR yang diselenggarakan oleh Tanono Foundation. Pada pelatihan tersebut saya memperoleh pengalaman
bagaimana melaksanakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan,’ ujarnya, kemarin.

Menurutnya, pembelajaran aktif dapat diterapkan salah satunya dengan menggunakan unsur MIKiR. Tujuan dari penerapan unsur MIKiR adalah merangsang siswa untuk belajar aktif dan lebih menyenangkan.

Unsur MIKiR tersebut adalah Mengalami (M) yaitu melakukan kegiatan dan/atau mengamati terkait dengan materi pembelajaran. Interaksi (I) yaitu proses pertukaran gagasan antar dua orang atau lebih. Komunikasi (Ki) yaitu proses penyampaian gagasan/pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain. Kemudian Refleksi (R) yaitu proses memikirkan makna dari belajar yang dialami. Baik yang terkait materi yang dipelajari maupun pengalaman belajar peserta didik.

Watini menyebutkan, dalam proses pembelajaran tersebut, peserta didik diberi motivasi untuk memusatkan perhatian. Kemudian mengamati gambar yang disajikan pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Dalam hal ini guru berusaha mendorong peserta didik untuk mengalami.

“Berdasarkan hasil pengamatan terhadap gambar, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar lewat group WA kelas. Guru membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk memunculkan berbagai pertanyaan,” ujarnya.

Dalam hal mengembangkan interaksi dan komunikasi saat proses pembelajaran, peserta didik
dibagi ke dalam 5 kelompok secara heterogen untuk bekerjasama dalam penyelesaian permasalahan. Peserta didik diberikan permasalahan dalam bentuk LKPD, serta dibimbing oleh guru.

“Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok mengenai permasalahan di Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dengan sikap penuh percaya diri dan komunikatif sedangkan kelompok lainnya
menanggapi melalui group WA kelas melalui pesan chat maupun pesan suara,’ sebutnya.

Salah seorang peserta didik bernama Atika mengatakan, dengan kegiatan belajar yang seperti
ini dia lebih mudah memahami materi yang diajarkan.

“Kami asik berdiskusi kelompok untuk menyelesaikan LKPD, pembelajaran tidak membosankan,” ujarnya.

“Kami juga senang karena diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas mempresentasikan hasil diskusi. Suasana belajar semakin hidup dan tidak membosankan. Kami juga lebih mudah memahami materi pelajaran karena bukan hanya mendengarkan cerita tentang sejarah saja,” tambah peserta didik lainnya, Alfarizi.

Sementara itu, Kepala Sekolah Dra. Roswati,M.Sijuga memberi apresiasi atas pembelajaran aktif dengan menerapkan unsur MIKiR sangat efektif dalam proses pembelajaran.

“Beliau berharap rekan-rekan guru yang lain dapat juga menerapkan unsur MIKiR tersebut dalam kegiatan pembelajarannya. Kepala sekolah juga sudah membuat pelatihan bagi guru SMPN 2 Air Joman, walaupun sekolah kami bukan merupakan sekolah mitra program Pintar Tanoto Foundation,” tutup
Watini, SPd, MM, menyampaikan harapan Kepala Sekolah.

FOKUS PROGRAM