Belajar dengan MIKiR Kuasai Keterampilan Abad 21

Belajar dengan MIKiR Kuasai Keterampilan Abad 21

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi sedang diskusi kelompok. Mereka antusias dengan cara perkuliahan yang dibawakan pak Fibrika

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi sedang diskusi kelompok. Mereka antusias dengan cara perkuliahan yang dibawakan pak Fibrika

Oleh Fibrika Rahmat Basuki, M.Pd, Dosen FKIP Universitas Jambi

Jambi – Saya menerapkan unsur pembelajaran aktif MIKiR (mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi) dalam setiap perkuliahan. Salah satunya pada mata kuliah Alat-Alat Ukur. Mahasiswa saya bagi menjadi 12 kelompok, setiap kelompok terdiri dari tiga orang mahasiswa. Mereka mendapat topik penugasan yang berbeda.

Topik yang dipelajari diantaranya Sound Level Meter, Luxmeter, Anemometer, Barometer, Psycrometer Standar, Thermohygrograph, Ombrometer, Evaporimeter, Actinograph, Campbel Stokes, MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT SCAN (sinar X).

Penerapan MIKiR ini dilakukan dalam dua sesi pertemuan. Pertemuan pertama kegiatan yang dilakukan yaitu Mengalami dan Interaksi. Pada pertemuan kedua melakukan Komunikasi dan Refleksi.

Pada pertemuan pertama mahasiswa saja ajak melakukan kunjungan belajar ke Stasiun Klimatologi Sungai Duren. Mereka mempelajari alat-alat ukur yang terdapat di Stasiun Klimatologi Sungai Duren. Mahasiswa juga dapat belajar melakukan pengukuran dengan alat-alat yang ada. Mahasiswa bisa bertanya langsung kepada ahli yang ada di Stasiun Klimatologi Sungai Duren.

Setelah melakukan kunjungan, mahasiswa di dalam kelompoknya mendiskusikan hasil praktik lapangan. Setiap kelompok juga membuat laporan dalam bentuk makalah dan presentasi power point. Laporannya berisi fungsi alat, jenis-jenis alat, bagian-bagian alat, cara kerja, cara kalibrasi, cara memakai, dan data hasil pengukuran yang didapat.

Setelah berdiskusi, mereka mempresentasikannya di depan kelas

Pada pertemuan kedua, mahasiswa mempresentasikan hasil praktik lapangan. Pada pertemuan ini topik yang dibahas yaitu sound level meter dan luxmeter. Dua kelompok yang mendapat topik tersebut mempresentasikan hasil praktik kunjungan lapangan. Mahasiswa sangat antusias dalam diskusi, mereka saling menanggapi jawaban dari kelompok lain.

Salah satu strategi yang dilakukan agar diskusi dapat berjalan dengan baik, mahasiswa wajib me-review materi yang akan didiskusikan pada setiap pertemuan. Hal itu menjadi prasyarat mengikuti perkuliahan. Mahasiswa wajib membuat portofolio kemajuan belajar yang dikumpulkan di setiap pertemuan.

Di akhir pertemuan, dosen mengajak mahasiswa melakukan refleksi. Saya menanyakan hal-hal yang telah mahasiswa pelajari atau kuasai tentang alat ukur sound level meter dan luxmeter. Pembelajaran juga mamanfaatkan ICT khususnya media sosial seperti Youtube dan grup Facebook. Setiap kelompok harus mengunggah laporan yang telah dikerjakan ke grup Facebook Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Jambi dan Youtube. Pajangan karya mahasiswa dengan memanfaatkan media sosial ini cukup efektif dan digunakan sebagai sumber belajar.

Kegiatan pembelajaran dengan unsur MIKiR yang diterapkan sangat relevan untuk mengembangan keterampilan abad 21 mahasiswa calon guru. Kompetensi abad 21 adalah perpaduan antara kognitif, interpersonal, dan karakteristik intrapersonal yang dapat mendukung pembelajaran lebih dalam dan transfer pengetahuan.

Kompetensi kognitif meliputi pemikiran kritis dan inovasi; atribut antarpribadi termasuk komunikasi, kolaborasi, dan tanggung jawab; dan sifat intrapersonal termasuk fleksibilitas, inisiatif, dan metakognisi (National Research Council, 2014).

Sedangkan keterampilan yang dibutuhkan generasi muda di abad 21 yaitu creativity, critical thinking, collaboration and digital literacies (Ball, Joyce, and Anderson-Butcher, 2016).

Perkuliahan dengan MIKiR ini, dapat mendorong kerja sama dan komunikasi, membudayakan kreativitas dan inovasi dalam belajar, mendesain aktivitas belajar yang relevan dengan dunia nyata, memberdayakan metakognisi, serta mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini sangat relevan dalam menyiapkan mahasiswa calon guru memiliki keterampilan abad 21 yang dapat berdampak untuk para siswanya kelak.*

FOKUS PROGRAM